Sabtu, 26 November 2016

survival part 1

“Hei, ngapain kamu di dalam bivouac? Kamu mau apatis? Kamu mau mati kedinginan terkena hipotermia?” tiba-tiba ada suara terdengar bersamaan dengan sesosok tinggi besar di hadapanku.
Setengah detik kemudian, sebuah telapak tangan berkecepatan tinggi mendarat di pipi kiriku. Panas. Aku kaget namun tak bergeming. Mataku tajam menatap orang yang menamparku.
Aku berada di tengah hutan rimba tak bertuan. Menjalani pendidikan dan latihan dasar untuk menjadi seorang pencinta alam. Dingin menyelusup di antara kemeja panel lengan panjang yang kupakai, membuat gigiku gemeretak diikuti tubuh yang menggigil. Sulit sekali cahaya matahari masuk. Tebalnya kabut dan awan gelap menghalangi mereka. Kalaupun tidak ada kabut dan awan, dedaunan rimbun pada pohon-pohon tinggi tetap tidak membiarkan cahaya matahari leluasa menyinari dan menghangatkan tubuhku yang kedinginan. Sudah memasuki hari kelima. Hari dimana aku bersama 9 orang lainnya kali ini menjalani sebuah fase yang disebut survival.
Di malam keempat, bahkan aku lupa hari apa malam itu. 10 orang, 7 orang laki-laki termasuk aku dan 3 orang perempuan dikumpulkan di atas sebidang tanah kecil berumput sekitar 15 × 15 meter. Kami berbaris.
“Kalian telah melewati 4 hari dengan baik. Praktek navigasi darat, explore search and rescue, dan biologi praktis telah kalian lewati. Malam ini kalian segera beristirahat. Besok akan menjadi tantangan terberat kalian. Catat dalam ingatan kalian, saya tidak akan mengulangi kata-kata saya untuk yang kedua kalinya. Besok kalian survival. Fase di mana kalian bertahan hidup di dalam hutan sendirian. Camkan itu! Sendirian. Tidak ada komunikasi satu sama lain di antara 10 orang di hadapan saya ini. Tidak satu kata pun, tidak satu isyarat pun. Posisikan kalian seorang diri di hutan ini, tidak ada orang lain. Saya akan menempatkan kalian di pos yang saling berjauhan. Bahan makanan kalian akan disita. Manfaatkan segala yang ada di alam ini untuk bertahan hidup. Jika ada sesuatu yang darurat, tiup peluit kalian dengan panjang 2 kali. Panitia nanti akan mendatangi sumber suara. Kita lihat sejauh mana kalian bisa bertahan. Sekarang silakan kembali ke camp.” Komandan lapangan malam itu tegas dan panjang lebar memberi instruksi.
Hari kelima hujan mengguyur hampir sepanjang hari. Matahari enggan menampakkan wajahnya. Jika dilihat dari kejauhan, hutan ini tampaknya diselimuti kabut dan awan gelap. Survival dimulai. Masing-masing orang ditempatkan di pos yang saling berjauhan, sesuai apa yang disampaikan komandan lapangan tadi malam. Kami dilarang berbicara satu sama lain walaupun bertemu. Kami hanya dibekali baju ganti untuk tidur, sebilah golok, satu buah headlamp, satu sendok garam, 5 batang korek api dengan pemantik kertas, sleeping bag dan sebuah ponco untuk membuat bivouac, semacam tenda alam, dengan bantuan segala sesuatu yang tersedia di hutan.
“Sekarang ngapain ya?” sejenak aku berpikir di dalam hujan. Mencoba mengingat pematerian di kelas 2 minggu yang lalu. Hujan turun semakin deras. Untungnya tidak dibarengi petir dan guntur.
“Aku bisa mati kedinginan”, pikirku. “Kayanya lebih baik bikin tempat berteduh dulu.”
Membuat bivouac menjadi prioritas bagiku dalam survival ini. Wajar karena perutku masih belum merasakan lapar. Tapi tubuhku kedinginan. Secara naluriah, manusia akan memprioritaskan apa yang dirasa lebih dibutuhkan. Bergegas aku mencari kayu yang bergelimpangan di sekitarku. Kayu yang kucari untuk menjadi tiang bivouac. Beberapa kayu kupotong pendek sekitar setengah lengan untuk dimanfaatkan sebagai patok di bagian sudut bivouac.
“Tak! Tak! Tak! Tak! Krak!” bunyi kayu patah setelah beberapa kali dipukul golok. Kayu yang cukup tebal untuk dijadikan tiang.
“Hahh, lumayan”, nafasku tersengal. Namun badanku menghangat karena banyak bergerak, padahal suhu terus menurun seiring hujan yang terus turun. Aku teruskan pekerjaanku. Kayu untuk tiang dan patok sudah terkumpul. Selanjutnya aku mencari akar-akar yang cukup kuat sebagai pengganti tali untuk mengikat antara 2 kayu tiang yang disambungkan dengan ponco sebagai atap bivouac. 2 sudut lain ponco kuikat dengan akar yang tersambung dengan patok. Jadilah sebuah bivouac sederhana dengan 2 tiang kayu tinggi di satu sisi kemudian sebuah ponco melintang diagonal tersambung dengan 2 patok pendek di sisi lain. Bivouac yang kubuat seperti tenda yang hanya setengah. Hanya mampu kubuat seperti itu karena ponco yang kugunakan tidak cukup lebar untuk membuat tenda sebagaimana mestinya.
Masih belum cukup. Bagian bawah bivouac masih berupa tanah dingin. Aku mencari dedauan untuk melapisi tanah agar setidaknya terasa lebih hangat sedikit. Tanaman pakis haji atau yang lebih familiar disebut tanaman paku bertebaran di sekitarku. Aku memanfaatkan beberapa lembar daun tanaman paku untuk menjadi alas bivouac. Beberapa lapis agar sedikit lebih empuk. Aku mencoba membuat bivouac ini senyaman mungkin dengan menggunakan segala sesuatu yang kulihat dapat dimanfaatkan di hutan ini.
Matahari tepat berada di atas ubun-ubun saat aku menyelesaikan bivouac dengan sempurna menurut penilaianku. Alas tebal yang sudah cukup empuk dan hangat. Atap yang dapat melindungi dari hujan dan panas. Tiang kayu yang cukup kokoh menahan tegangan tali yang tersambung antara ponco dan tiang kayu.
“Perfect, not bad. Hahaha” aku terkekeh sendiri, puas melihat hasil pekerjaanku. Hujan perlahan reda dan berhenti sama sekali. Matahari sedikit condong ke arah barat.
“Waktu shalat Dzuhur udah masuk”, aku bergumam kemudian mencari sungai untuk wudhu dan shalat Dzuhur di dalam bivouac. Sembahyang di tengah alam terasa begitu khidmat. Gemericik air sungai, kicau burung, semilir angin sepoi semakin menenggelamkan pikiran ini dalam kekhusyukan shalat. Seketika teringat kedua orangtua di rumah. 5 hari di hutan benar-benar membuat kerinduan akan rumah semakin memuncak. Entah kapan aku akan pulang, panitia tidak memberitahu tanggal pastinya. Tanggal? Ah, bahkan aku tidak tahu lagi hari ini hari apa dan tanggal berapa.
Cukup melelahkan. Aku istirahat sejenak, merebahkan tubuh di dalam bivouac dengan keadaan badan basah kuyup. Kembali termenung sambil mengatur nafas. Selama di hutan, baru hari ini merasakan kesendirian. 4 hari kemarin kami tidak pernah terpisah. Selalu bersama-sama, 10 orang. Banyak pikiran berdatangan. Bagaimana aku makan? Bagaimana melewati malam? Bagaimana mengatasi dingin? Bagaimana jika ada binatang buas? Bagaimana jika ada makhluk halus? Untuk yang terakhir aku bergidik ngeri. Siapa tahu hutan rimba? Tak ada yang tahu pasti ada apa saja di dalam hutan. Dan hal mistis itu sangat mungkin terjadi di hutan. Terlalu banyak pikiran, justru membuatku terlelap. Lelah tidak mempedulikan badan yang basah kuyup.
Aku terjaga. Melihat langit, lalu memperhatikan matahari. Ia sudah tergelincir jauh ke arah barat. Tidak tahu persis jam berapa saat ini, hanya bisa memperkirakan dari posisi matahari. Sepertinya sudah masuk waktu shalat Ashar. Perutku bunyi. Lapar mulai muncul. Aku mengela nafas. “Lapar muncul juga. Shalat ashar dulu ya sebelum nyari makanan”, pikirku. Aku kembali turun ke sungai untuk mengambil air wudhu. Kemudian shalat di dalam bivouac. Setelah itu kuambil sebilah golok itu lalu mulai berburu makanan.
“Ada apa ya di hutan ini yang bisa dimakan?” aku bertanya pada diriku sendiri sambil melihat sekeliling. Penuh pepohonan yang beragam. Tentu diantaranya ada yang dapat dimakan dan ada juga yang beracun. Aku mencoba berkeliling hutan sambil memberi tanda-tanda kecil pada setiap jalan yang kulalui agar aku tidak tersesat untuk kembali ke bivouac. Dari pematerian kelas, aku mengetahui beberapa tanaman yang dapat dimakan. Tanaman paku muda yang masih melingkar, belum mekar, itu dapat dimakan. Kemudian buah beri, jika beruntung dapat ditemukan di hutan. Konon katanya buah beri ini sangat langka. Ada juga yang disebut tanaman begonia. Namanya unik mengundang tawa, tapi justru tanaman ini yang paling dicari karena mengandung air dan rasa asam yang menggiurkan. Berbeda dengan paku muda yang hambar, begonia ini asam.
Aku terus berkeliling. Cukup lama dan melelahkan apalagi perut keroncongan. Tanaman paku muda beberapa kutemui dan langsung kulahap di tempat. Tidak cukup untuk mengenyangkan namun setidaknya mengganjal perut walau hanya sedikit.
“Aha! Begonia!” Aku berteriak kegirangan. Ada beberapa batang begonia kutemukan. Secepat kilat aku tebas dengan golok. Cara makan begonia simpel. Kupas bagian batangnya lalu masukan ke mulut dan kunyah. Akan ada sensasi asam yang membuat merinding dan bergidik sesaat. Kurogoh saku untuk mengeluarkan garam. Garam yang hanya sesendok ini sebelumnya kusimpan di daun lalu kulipat dan kumasukkan ke saku. Ini saat yang ditunggu, mengkombinasikan begonia dengan garam. Layaknya mangga muda yang dimakan dengan garam, begonia dan garam bisa menjadi pengganti itu di hutan.
“Hmmmm, slurp”, kelenjar saliva dalam mulutku merkontraksi mengeluarkan banyak air liur saat begonia bergaram menyentuh lidah. Asam dari begonia dan asin dari garam bercampur menghasilkan rasa yang abstrak. Memang tidak mengenyangkan, sama halnya dengan paku, namun sensasi asam-asin dari begonia dan garam setidaknya menghilangkan hambar di lidahku.
Masih terus berkeliling. Dari kejauhan aku melihat sesuatu yang familiar. Pohon yang biasa ditemui di pemukiman warga, pohon pisang. Setelah kudekati, ternyata ada beberapa pohon pisang. Sayangnya, belum ada satupun pisang yang matang. Semua masih berwarna hijau.
“Tak apalah, bawa aja dulu untuk bahan makanan”, pikirku. Aku mencari pohon yang paling pendek dan dapat dijangkau. Kutebas satu bonggol pisang lalu kugotong. Rasanya cukup. Aku sudah menemukan satu bonggol pisang, dan beberapa tanaman paku untuk bahan makanan. Begonia sudah habis kumakan dicampur garam tadi.
Rupanya aku sudah terlalu jauh menelusuri hutan. Matahari sudah benar-benar tenggelam. Hanya sedikit mengintip memancarkan warna jingganya. Itu pun banyak terhalang pepohonan. Langit sudah mulai gelap.
“Ssttt! Fizh, mau ke mana?” suara Arli berbisik dari kejauhan.
“Arli!” aku balas berbisik dengan ekspresi girang. Ekspresi diri yang senang karena bertemu teman seperjuangan. Aku menoleh kanan-kiri memastikan tidak ada siapapun kecuali kami berdua di sana. Kudekati Arli perlahan.
“Mau ke mana?” Arli mengulangi pertanyaannya.
“Ini li, baru beres cari bahan makanan,” kataku seraya menunjukkan bonggol pisang di punggungku. “Kau sendiri mau kemana?” aku balik bertanya.
Telunjuknya mengangkat dan mengarah ke selatan. “Itu posku, kau lihat? Keliatan sedikit dari sini, ketutup pohon besar itu.” Sebuah pohon tua dan besar yang tebal akarnya sepantar dengan pohon pisang yang kutemui tadi menghalangi pos Arli. Mataku memicing coba menemukan pos Arli.
“Ah iya keliatan! Yang ponco biru bukan?” Aku mencoba memastikan itu bivouac Arli.
“Ya, yang itu. Udah dapet makanan apa aja, Fizh?” tanya Arli
“Aku dapet bonggol pisang dan beberapa tanaman paku. Kau sendiri?” Aku balik bertanya.
“Aku punya banyak begonia. Di deket posku banyak begonia. Nih, ambil beberapa” Arli menyodorkan 5 batang begonia.
“Wah terima kasih, li. Mau nyoba pisang ini ga?” Aku balas menawarkan.
“Ga usah, bahan makananku lumayan banyak disana. Ada pisang juga kok. Eh, mendingan cepat kembali ke pos sebelum ada yang ngeliat kita di sini. Hati-hati, langit mulai gelap.” Arli menghimbau. Aku mengangguk. Kita berdua tahu bahwa kita melanggar aturan. Tapi kita sama-sama tersenyum.
Percakapan singkat. Sangat singkat dan sederhana. Tapi bermakna banyak bagiku. Mungkin bagi Arli juga. Lebih dari 8 jam aku merasakan kesendirian. Terkadang ketika kita merasakan di sendirian, yang kita butuhkan bukan tempat tinggal atau tempat berteduh, bukan juga makanan atau air, tetapi teman mengobrol dan keyakinan bahwa kita tidak benar-benar sendirian.
Aku menyalakan headlamp dan membiarkannya melingkar di dahiku. Langit benar-benar sudah gelap. Matahari tidak lagi ada. Aku menelusuri tanda-tanda yang sudah kubuat sebagai penanda jalan kembali ke bivouac seraya memanggul bonggol pisang serta menggenggam beberapa begonia dan tanaman paku. Bunyi tonggeret tiba-tiba muncul nyaring. Konon katanya, suara tonggeret menunjukkan akan turun hujan. Entah benar atau tidak, tapi sesaat setelah suara tonggeret pertama terdengar, muncul suara-suara tonggeret lain saling bersahutan lalu turun kembali hujan deras.
“Ya Allah hujan lagi”, aku mengeluh. Sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan seorang muslim. Aku terkesiap dan beristighfar setelah tersadar bahwa hujan adalah rezeki yang Allah turunkan bagi makhluk-Nya, dan aku malah mengeluh karena turunnya hujan. Badanku kembali basah kuyup setelah tadi agak kering. Gemetar tubuh datang lagi. Jalanan semakin licin. Untungnya jarak menuju bivouac sudah dekat. Gelap dan licin ditambah bonggol pisang yang dipanggul menguji keseimbanganku dalam melangkah. Sesekali hampir terjatuh.
“Brakk!” Aku melempar bahan makanan ke tanah samping bivouac kemudian terduduk lelah. Malam yang aku takutkan tiba. Dingin menusuk karena matahari tidak lagi memancarkan kehangatannya, ditambah hujan deras yang semakin melengkapi suhu dingin di hutan.
“Aku harus ngapain?! Aku harus ngapain?!” aku agak panik. Keadaan tubuh menggigil. Gelap malam di hutan sangat menakutkan. Menguji nyali dan mental siapapun yang berada di dalamnya. Pikiran-pikiran aneh mulai berkelebat muncul. Sugesti negatif tentang makhluk halus bermunculan. Bagaimanapun juga makhluk halus itu nyata keberadaannya walau jarang menampakkan diri. Aku menarik nafas panjang mencoba menenangkan diri.
“Aku harus bikin api!” Kurogoh saku dan kukeluarkan 5 batang korek api dan kertas pemantiknya. “Bodohnya aku! Matilah aku di hutan ini!” aku berteriak memaki diri sendiri. Korek api itu basah. Kertas pemantiknya pun basah. Aku lupa menaruhnya dalam lipatan daun.
“Bodoh! Bodoh!” umpatan-umpatan itu keluar terus. Aku memukul kepalaku berkali kali dengan kepalan tangan. Gerakan-gerakan tak penting yang kulakukan memperlihatkan bahwa aku semakin panik. Api tidak mungkin bisa kubuat tanpa korek api. Apalagi hujan deras begini. Badanku menggigil hebat. Tubuh lemas karena tidak ada asupan nutrisi yang cukup. Semua makanan yang kutemukan di hutan tidak cukup memberikan nutrisi untuk dikonversi menjadi energi gerak. Kucoba memakan pisang mentah tadi, berharap setidaknya asupan tambahan untuk tubuhku.
“Pffftt! Kesat sekali pisangnya.” Aku memuntahkan kembali pisang itu. Hambar. Kesat. Tak ada rasa manis sama sekali. Kuteguk air untuk menghilangkan rasa hambar itu. Aku lapar sekali. Aku melirik begonia, mencoba meraihnya, namun kuurungkan niatku itu karena asam dari begonia akan berdampak buruk bagi lambungku yang kosong. Serba salah. Rasanya sangat tersiksa. Perut kosong. Suhu udara dingin luar biasa. Cuaca hujan deras. Badan basah kuyup. Tidak ada api. Lengkap sudah. Aku ingin menangis.
Sekali lagi kuhela nafasku panjang. Kali ini jauh lebih panjang. Sepertinya yang paling panjang di hari ini. Mencoba tenang.
“Aku harus shalat, mungkin akan lebih tenang.” pikirku. Aku belum shalat Maghrib dan Isya di malam itu. Kuputuskan menjamak shalat Maghrib ke waktu Isya. Aku tidak tahu lagi jam berapa saat ini. Yang pasti langit hitam pekat. Aku mengambil air wudhu dari hujan yang turun. Bukan wudhu lagi, bahkan aku mandi di tempat. Lalu shalat di dalam bivouac.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar