Bagi Eugenie dan sahabatnya Jade, belajar adalah prioritas utama. Meskipun mereka hidup di tengah keluarga kurang mampu. Namun, itu semua bukanlah alasan bagi mereka untuk berhenti menuntut ilmu. Bagi mereka, hidup tanpa belajar bagai dunia tanpa disinari oleh matahari. Bagai merpati, dalam sangkar. Tak dapat bebas terbang mengepakkan sayapnya yang indah. Namun, karena keterbatasan ekonomi. Menuntut mereka untuk menghentikan langkah mereka untuk menggapai semua mimpi itu. Mereka tidak putus asa atas semua beban hidup yang mereka pikul. Masalah demi masalah, datang bertubi-tubi. Sehingga mereka pun harus memilih dua hal yang ada di hadapan mereka. Semua yang terjadi pada setiap manusia, sudah diatur oleh sang kuasa. Kita sebagai manusia, hanya bisa menjalankannya sesuai jalan yang diridho oleh Tuhan.
Di sebuah kamar, yang hanya diterangi oleh sebatang lilin. Terlihat Eugenie sedang sibuk membaca sebuah buku Fisika. Dia memang mahir dalam hitung-hitungan. Sehingga tak heran dia diikutsertakan sebagai anggota lomba Olimpiade Fisika antar Provinsi. Itu merupakan sebuah kebanggaan yang tak dapat dia ungkapkan. Ya, hanya dengan sebuah prestasi dia bisa membuktikan kepada keluarganya bahwa dia bisa membanggakan mereka. Itu pun dapat dia buktikan dengan memperoleh sebuah medali emas. Dia pun pernah bermimpi, suatu hari nanti dia bisa meneruskan kuliahnya ke luar negeri. Namun, apakah mimpi itu akan menjadi kenyataan? Ya. Tidak ada salahnya jika kita bermimpi, selagi kita masih mampu untuk mewujudkan mimpi itu menjadi nyata.
Di balik itu semua, tak terlepas dari dukungan seorang pria tampan, yang hobi main basket. Pria yang telah membuat hari-harinya menjadi lebih berwarna. Meskipun saat itu, tak sedikit yang suka padanya. Dia tahu hal itu, karena secara diam-diam mereka berbisik kepada sahabatnya Jade untuk berkenalan atau sekedar untuk menitip salam. Mereka kagum kepadanya, karena banyak yang mengatakan Eugenie friendly dan juga smart namun rendah hati.
Keesokan paginya, dengan tas buku di tangan Eugenie pergi ke ruang makan.
“Genie pergi, pak, bu!” Lalu ia cepat-cepat ke luar melalui pintu samping. Ibunya masih sempat berseru.
“Kalau udah pulang, langsung ke rumah! Jangan mampir dulu di jalan!”
“Genie pergi, pak, bu!” Lalu ia cepat-cepat ke luar melalui pintu samping. Ibunya masih sempat berseru.
“Kalau udah pulang, langsung ke rumah! Jangan mampir dulu di jalan!”
Eugenie meletakkan tasnya di belakang sepeda, tergesa-gesa menyeret sepedanya ke halaman. Tapi ketika ia sampai di depan pagar rumah, Jade datang berkata.
“Pagi,” Sapa Jade. “Oh ya, pulang sekolah nanti kita mampir dulu yuk ke toko kue kemaren?” Ajak Jade, untuk sekedar mengisi waktu luang. Karena upahnya lumayan. Namun Eugenie tak menjawab, dia tampak berpikir keras alasan apa yang akan dia beri pada Ibunya, kalau dia harus bekerja dulu nanti.
“Lihat aja ntar tapi aku takut nanti aku dimarahi oleh Ibu,” Kata Eugenie berkeberatan. Dan dia pun melirik arloji di tangannya.
“Sudah hampir pukul tujuh! Kita bisa terlambat jad,” kata Eugenie sambil menaiki sepedanya, dan mereka pun mengayuh dengan cepat.
“Pagi,” Sapa Jade. “Oh ya, pulang sekolah nanti kita mampir dulu yuk ke toko kue kemaren?” Ajak Jade, untuk sekedar mengisi waktu luang. Karena upahnya lumayan. Namun Eugenie tak menjawab, dia tampak berpikir keras alasan apa yang akan dia beri pada Ibunya, kalau dia harus bekerja dulu nanti.
“Lihat aja ntar tapi aku takut nanti aku dimarahi oleh Ibu,” Kata Eugenie berkeberatan. Dan dia pun melirik arloji di tangannya.
“Sudah hampir pukul tujuh! Kita bisa terlambat jad,” kata Eugenie sambil menaiki sepedanya, dan mereka pun mengayuh dengan cepat.
Ketika sampai di depan perkarangan sekolah, mereka berhenti seketika, ketika ada suara yang memanggil. Ternyata Gerald. Seketika mereka menoleh dan tersenyum padanya. Sekilas mereka melihat mobil Terano putih yang setia mengantar jemput Gerald ke istananya mulai pergi.
“Hey.” Sapa Gerald dengan senyumnya yang khas.
Mereka pun membalasnya dengan senyuman, kemudian Jade minta untuk duluan. Karena dia tahu diri, kalau kehadirannya akan mengganggu mereka.
“Udah lama nggak kelihatan. Lagi sibuk ya?” Tanya Gerald yang membuat Eugenie salah tingkah.
“Iya,” Jawab Eugenie gugup.
Matanya yang jernih memandang terus ke Gerald. Memang wajahnya menunjukkan ia seorang gadis yang polos dan membuat semua orang yang melihatnya menjadi simpati. Selain cantik, pintar, dia juga ramah dan tidak sombong.
“Hey.” Sapa Gerald dengan senyumnya yang khas.
Mereka pun membalasnya dengan senyuman, kemudian Jade minta untuk duluan. Karena dia tahu diri, kalau kehadirannya akan mengganggu mereka.
“Udah lama nggak kelihatan. Lagi sibuk ya?” Tanya Gerald yang membuat Eugenie salah tingkah.
“Iya,” Jawab Eugenie gugup.
Matanya yang jernih memandang terus ke Gerald. Memang wajahnya menunjukkan ia seorang gadis yang polos dan membuat semua orang yang melihatnya menjadi simpati. Selain cantik, pintar, dia juga ramah dan tidak sombong.
Suatu hari dua sahabat ini dihadapkan oleh suatu masalah, yang membuat mereka harus memilih jalan yang terbaik. Keluarga Jade memiliki hutang yang besar dengan juragan Doyok, yang dikenal di kampungnya sebagai lintah darat. Ketika juragan Doyok mengetahui, bahwa Jade adalah anak dari keluarga yang telah berhutang padanya. Dia pun berniat untuk mempersuting Jade, sebagai imbalan hutang keluarga Jade padanya. Jade menolak keras, dengan permintaan orangtuanya untuk menjadikannya sebagai barang yang akan melunasi hutang keluarganya.
“Tidak! Tidak mungkin aku harus menikah dengan juragan Doyok,” Tegas Jade. “Kalian tahu kan, istrinyanya bukan cuma seorang.. tapi udah lima! Aku nggak mau jadi istri keenamnya! Lebih baik aku mati!”
“Kamu ngomong apa sih Jade. Untuk situasi seperti ini, kamu harus ikhlas menerima keadaan,” kata Ayahnya yang juga tak mampu membendung air mata.
“Tapi yah masa depan Jade masih panjang! Jade masih ingin sekolah yah Jade mohon yah, jangan jual Jade yah,” pinta Jade sambil berlutut pada Ayahnya.
“Maaf kan Ayah nak. Ayah tidak bisa jadi Ayah yang terbaik untukmu,” katanya lalu berlalu.
“Kamu ngomong apa sih Jade. Untuk situasi seperti ini, kamu harus ikhlas menerima keadaan,” kata Ayahnya yang juga tak mampu membendung air mata.
“Tapi yah masa depan Jade masih panjang! Jade masih ingin sekolah yah Jade mohon yah, jangan jual Jade yah,” pinta Jade sambil berlutut pada Ayahnya.
“Maaf kan Ayah nak. Ayah tidak bisa jadi Ayah yang terbaik untukmu,” katanya lalu berlalu.
Malam itu, Jade menangis semalaman. Merenungi nasib yang dia hadapi. Dia mulai berpikir, apakah orang miskin seperti dia tidak boleh bermimpi menjadi orang sukses?
“Ya Tuhan. Apa salah hamba? Hingga kau beban kan semua ini pada hamba hamba hanya ingin sekolah menuntut ilmu. Demi masa depan yang cerah. Demi keluarga hamba tolong hamba ya Tuhan.” desisnya dalam hati.
“Ya Tuhan. Apa salah hamba? Hingga kau beban kan semua ini pada hamba hamba hanya ingin sekolah menuntut ilmu. Demi masa depan yang cerah. Demi keluarga hamba tolong hamba ya Tuhan.” desisnya dalam hati.
Pernikahan itu tak dapat dielakkan lagi. Dengan hati ridha, Jade menerimanya dengan hati lapang. Karena hanya dialah yang bisa membantu kelurganya, setidaknya dia telah berbakti pada orangtuanya. Meskipun, semua cita-cita dan impiannya harus dia kubur sedalam-dalamnya. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Ibunya, bahwa orang miskin sepertinya tidak boleh bermimpi.
“Sahabatku. Maaf aku tidak bisa membantumu,” kata Eugenie dengan nada menyesal. Kemudian mereka saling berpelukan. Mungkin. Ini adalah pertemuan terakhir mereka.
“Oh… Ganie,” dia pun menangis tersedu-sedu di pelukan Euganie. “Impianku pupus sudah ganie aku berharap kamu mewujudkan mimpi kita Ganie! Aku harap kamu terus meraih prestasi meski tanpa aku,” dia pun melepaskan pelukannya, dan berusaha untuk kelihatan kuat.
“Aku janji Jad, aku akan mewujudkan mimpi kita aku janji!” Itulah janji Eugenie untuk sahabatnya. Baginya Jade adalah gadis yang tegar, meskipun dia harus memilih untuk mengubur semua impiannya. Jade yang malang.
“Oh… Ganie,” dia pun menangis tersedu-sedu di pelukan Euganie. “Impianku pupus sudah ganie aku berharap kamu mewujudkan mimpi kita Ganie! Aku harap kamu terus meraih prestasi meski tanpa aku,” dia pun melepaskan pelukannya, dan berusaha untuk kelihatan kuat.
“Aku janji Jad, aku akan mewujudkan mimpi kita aku janji!” Itulah janji Eugenie untuk sahabatnya. Baginya Jade adalah gadis yang tegar, meskipun dia harus memilih untuk mengubur semua impiannya. Jade yang malang.
Sebulan telah berlalu, hasil UN mengatakan kalau Ganie lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Dia mendapat rangking pertama se-Nasional. Dia sangat bangga dengan prestasi yang dia peroleh. Apalagi setelah dia mendapat Beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke USA.
Akhirnya mimpi yang selama ini menghiasi tidurnya, menjadi kenyataan. Hasil jerih payahnya terbayar sudah. Meskipun dia harus menjual kehormatannya, demi melanjutkan pendidikan dan untuk membeli obat Ibunya yang kini sakit-sakitan. Semua ini karena niat licik dari pamannya, yang dari dulu memang sudah berniat untuk menjual dirinya. Namun, dia mulai mengerti arti sebuah kehidupan, tanpa usaha maka semua tak akan menjadi nyata. Meskipun dia harus memilih jalan yang salah.
TAMAT
Cerpen Karangan: Renny Afiza
Facebook: Ren Twin Nda
Renny Afiza. Siswi SMAN 1 KUBUNG, Kab. Solok. Cerita ini ku persembahkan untuk orang-orang yang hidupnya selalu dipandang sebelah mata, untuk tetap tabah menjalani hidup. Karena semua cobaan yang diberikan oleh yang maha kuasa, tidak terlepas dari kemampuan makhluknya. Dan tetap berusaha di jalan yang diridhoi oleh Tuhan.
Facebook: Ren Twin Nda
Renny Afiza. Siswi SMAN 1 KUBUNG, Kab. Solok. Cerita ini ku persembahkan untuk orang-orang yang hidupnya selalu dipandang sebelah mata, untuk tetap tabah menjalani hidup. Karena semua cobaan yang diberikan oleh yang maha kuasa, tidak terlepas dari kemampuan makhluknya. Dan tetap berusaha di jalan yang diridhoi oleh Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar