Tiga orang anak yang menangis di depan dua makam yang saling berdempetan. “Yang sabar ya Nak,” ucap seorang ibu tua sambil mengusap punggung dan pundakku. Ku lihat semua orang telah pergi dan meninggalkan kami bertiga di sini. Apa yang bisa ku perbuat sekarang? aku menatap langit yang gelap tak lama kemudian hujan pun turun.
“Nata, Rama ayo pulang,” ajakku pada adik-adikku.
“Nata gak mau, Nata mau di sini aja,” ucap Reinata adik pertamaku.
“Tapi kan hujan Kak,” si kecil Rama menjawab dengan polosnya.
“Sudah, ayo pulang,” sentakku.
“Gak, gak mau,” Reinata kukuh dengan sikapnya.
“Nanti kita ke sini lagi Kak, sekarang pulang dulu,” lanjut Rama lagi.
“Nata gak mau, Nata mau di sini aja,” ucap Reinata adik pertamaku.
“Tapi kan hujan Kak,” si kecil Rama menjawab dengan polosnya.
“Sudah, ayo pulang,” sentakku.
“Gak, gak mau,” Reinata kukuh dengan sikapnya.
“Nanti kita ke sini lagi Kak, sekarang pulang dulu,” lanjut Rama lagi.
Mendengar ucapan Rama, aku pun sadar mungkin aku kurang dekat dengan Reinata dan Rama sehingga aku pun tak bisa bersikap wajar kepada mereka. Tapi apakah salah dengan sikapku ini? Aku pun sama pedihnya, sama sakitnya dengan apa yang dirasakan Reinata tapi dia tak mengerti aku. “Nata sekarang pulang yuk? Sudah hujan, kalau kita semua sakit nanti gak ada yang bisa ke sini untuk jenguk Ayah dan Bunda,” seolah spontan, kata-kata manis itu meluncur begitu saja pada sudut bibirku.
Reinata menatapku lekat, mungkin dia berpikir kalau yang barusan berkata bukanlah aku. Akhirnya Reinata pun menurut dan kami pun pulang. Setibanya di rumah, semua terasa aneh ada yang berbeda dengan hari-hari biasanya. Aku mengajak Reinata dan Rama untuk membereskan rumah, karena keadaan rumah yang nampak berantakan karena banyak tamu yang berdatangan untuk berta’jiyah. Malam hari kami baru menyelesaikan semua pekerjaan rumah, ku lihat Rama yang tertidur pulas tiga puluh menit yang lalu.
“Kak,” Reinata memanggilku, dia telah duduk di kursi ruang tengah sejak tadi.
“Iya, ada apa?” sahutku.
“Apa benar semua yang terjadi ini Kak?” ucapnya.
Aku tak dapat menjawabnya, aku terdiam dan duduk di dekat Reinata.
“Perlukah ku keceritakan ulang semuanya padamu? Walau kamu pun sudah tahu pada kenyataannya? Kuatkan hati dan pikiranmu dan jangan berpikir tentang apa-apa lagi,” ucapku sambil merangkul adik perempuanku itu.
“Iya, ada apa?” sahutku.
“Apa benar semua yang terjadi ini Kak?” ucapnya.
Aku tak dapat menjawabnya, aku terdiam dan duduk di dekat Reinata.
“Perlukah ku keceritakan ulang semuanya padamu? Walau kamu pun sudah tahu pada kenyataannya? Kuatkan hati dan pikiranmu dan jangan berpikir tentang apa-apa lagi,” ucapku sambil merangkul adik perempuanku itu.
Reinata menangis bagai meluapkan semua air mata yang ia punya. Aku dapat berkata pada adikku sendiri agar dirinya tetap tegar dan dapat menerima semuanya dengan lapang, tapi diriku sendiri pun rapuh maka aku hanya dapat meratapi diriku sendiri. Aku pergi ke kamarku setelah mengantarkan Reinata ke kamarnya bersama Rama. Aku berbaring di atas tempat tidurku sambil menatap langit-langit, Adilkah semua ini? Dosa apakah aku? Mengapa semua ini menimpaku? Bisa apakah aku setelah ini? Bagaimanakah aku bersama kedua adikku setelah ini? Kuatkah aku dengan keadaan yang terjadi? Jeritan hatiku, aku hanya dapat menangis meratapi keadaan saat ini.
—
Semua teman-teman satu gengku menjauhiku, sudah ku duga sejak dari seminggu lalu sebelum aku masuk sekolah. Teman macam apa kalian? Aku pun bisa tanpa kalian, aku seorang laki-laki bukan pecundang seperti apa yang kalian katakan karena ejekan terhadap ayahku, Ucap batinku kesal. Aku pergi ke atas gedung sekolah, mungkin aku bisa melepaskan semua kekesalanku pada mereka dan merenung karena meratapi nasibku saat ini. Aku berdiri di depan pagar yang membatasi batas gedung tersebut, ku lepaskan pandangan jauh ke depan dan tanpa sadar air mataku menetes.
“Kak Raka,” seseorang menghampiri dan mengenaliku.
Cepat ku hapus air mata dan berbalik badan untuk tau siapa yang mendapatiku sedang berada di atas gedung ini.
“Eh kamu, ngapain di sini?” tanyaku pada adik kelas perempuan itu.
“Aku memang hampir setiap hari ke sini, lalu apa yang sedang Kakak lakukan di sini?” dia balik tanya.
“Oh, aku hanya sekedar mencari angin saja. ”
“Oh gitu,”
Cepat ku hapus air mata dan berbalik badan untuk tau siapa yang mendapatiku sedang berada di atas gedung ini.
“Eh kamu, ngapain di sini?” tanyaku pada adik kelas perempuan itu.
“Aku memang hampir setiap hari ke sini, lalu apa yang sedang Kakak lakukan di sini?” dia balik tanya.
“Oh, aku hanya sekedar mencari angin saja. ”
“Oh gitu,”
“Hemp, kalau gitu aku turun duluan ya?”
“Eh tunggu sebentar Kak,”
“Iya,”
“Soal minggu kemaren, ku dengar orangtua Kakak meninggal ya? Aku turut berduka cita ya Kak maaf aku gak sempat ta’jiyah waktu itu, semoga Kakak dan keluarga bisa tabah menerima semuanya,”
“Oh itu, i.. iya. Makasih,” Lagi-lagi dia mengingatkanku pada hal itu, akhirnya ku percepat langkah jalan menuju kelas. “Ada apa dengannya?” perempuan itu berkata setelah melihatku pergi. Perempuan itu duduk di bangku dekat pagar pembatas, dia memulai kegiatannya seperti biasanya.
“Eh tunggu sebentar Kak,”
“Iya,”
“Soal minggu kemaren, ku dengar orangtua Kakak meninggal ya? Aku turut berduka cita ya Kak maaf aku gak sempat ta’jiyah waktu itu, semoga Kakak dan keluarga bisa tabah menerima semuanya,”
“Oh itu, i.. iya. Makasih,” Lagi-lagi dia mengingatkanku pada hal itu, akhirnya ku percepat langkah jalan menuju kelas. “Ada apa dengannya?” perempuan itu berkata setelah melihatku pergi. Perempuan itu duduk di bangku dekat pagar pembatas, dia memulai kegiatannya seperti biasanya.
—
Ku buka pintu rumah perlahan, terlihat pemandangan yang membuatku kaget ketika melihat barang-barang seisi rumah sudah tak ada. Aku langsung berlari menuju kamar dan mencari kedua adikku, saat aku akan menuju kamar dan melewati tangga ku lihat di pojok dekat meja dapur seorang anak perempuan yang sedang ketakutan sambil menangis.
“Nata,” ku menghampirinya dengan perlahan. Nata malah menjauh dariku, dia nampak sangat ketakutan sekali. Badannya mengeluarkan keringat dan gemetaran.
“Nata, jangan takut ini Kakak.. ini Kak Raka,” aku mencoba mendekatinya sambil mengenalkan bahwa aku adalah kakaknya.
“Nata,” ku menghampirinya dengan perlahan. Nata malah menjauh dariku, dia nampak sangat ketakutan sekali. Badannya mengeluarkan keringat dan gemetaran.
“Nata, jangan takut ini Kakak.. ini Kak Raka,” aku mencoba mendekatinya sambil mengenalkan bahwa aku adalah kakaknya.
Perlahan, perlahan dia mulai melihat dan memastikanku. Seketika dia langsung memelukku erat, sangat erat. Aku tahu betapa takutnya dia, siapa yang datang ke sini dan membuat adikku menjadi ketakutan seperti ini? Tanyaku kesal dalam hati. Reinata menangis dalam pelukanku, ku belai halus kepalanya dan berusaha agar dapat menenangkannya. Aku membawa Reinata ke kamarnya, yang tersisa hanyalah kasur saja. Aku bingung ada apa ini? Aku tak dapat bertanya pada Reinata karena dia masih ketakutan. Di dapur ku tak dapat menemukan suatu apa pun untuk dimasak ataupun dimakan, ku memasak air untuk Reinata dan membuatkannya teh tanpa gula. Haruskah aku mencari kerja? Di mana? Bagaimana? Arrgghh.. tanpa sadar aku memukul meja dengan keras lalu duduk terjatuh sambil bersandar pada tembok di dapur, di situ aku tak bisa menahan air mataku yang tumpah.
Menjelang sore ku lihat Reinata tertidur di atas kasurnya, dan tadi Rama berpamitan untuk pergi bermain. Aku bersyukur karena Rama tidak rewel dan tidak ada yang berubah dalam dirinya. Tapi Reinata karena dia sedang ada di rumah, menyaksikan para preman dan rentenir itu mengambil semua barang milik kami dan Reinata hampir saja disakiti oleh para preman itu tapi beruntunglah tidak karena rentenir itu melarangnya lalu meninggalkan Reinata yang sangat ketakutan itu.
Aku pergi ke luar rumah dan berharap agar aku bisa mendapatkan sebuah pekerjaan dan mendapatkan upah supaya aku bisa membelikan makan untuk adik-adikku. Sepanjang jalan setiap ku lihat toko atau apa saja yang memungkinkan ada sebuah pekerjaan apa pun yang dapat ku lakukan, aku bertekat dan memberanikan diri untuk masuk ke tempat-tempat tertentu atau toko dan bertanya apakah aku bisa bekerja di situ atau tidak.
Aku tak peduli pekerjaan apa pun dan aku pun tak peduli seberapa lama aku dapat bertahan bekerja di tempatnya yang aku butuhkan adalah aku bisa mencari kerja lalu dapat uang dan bisa membelikan makan untuk adik-adikku, itu pun cukup untuk hari ini saja. Lebih dari 5 jam aku berkeliling, tapi tak ada satu pun tempat yang mau menerimaku untuk bekerja di tempatnya walau hanya satu jam dengan dua puluh ribu saja. Hari sudah malam, aku pun duduk di emperan depan toko untuk beristirahat. Tak ada yang ku pikirkan, semua pikiranku kosong tanpa tahu apa yang harus ku lakukan lagi.
“Kak Raka,” seorang perempuan mengenaliku.
Ku lihat wajahnya “Iya,” ku jawab dengan wajah memelas.
“Sedang apa Kak di sini?” tanyanya.
“Sedang mencari pekerjaan,”
“Pekerjaan? Pekerjaan seperti apa?”
“Apa pun, walau itu satu jam pun aku mau dengan bayaran berapa pun, aku butuh sekali sekarang. Untuk malam ini saja,” ucapku pasrah.
“Hemp, sebentar ya Kak,” perempuan itu masuk pada sebuah rumah makan yang berjajar berada di situ.
Ku lihat wajahnya “Iya,” ku jawab dengan wajah memelas.
“Sedang apa Kak di sini?” tanyanya.
“Sedang mencari pekerjaan,”
“Pekerjaan? Pekerjaan seperti apa?”
“Apa pun, walau itu satu jam pun aku mau dengan bayaran berapa pun, aku butuh sekali sekarang. Untuk malam ini saja,” ucapku pasrah.
“Hemp, sebentar ya Kak,” perempuan itu masuk pada sebuah rumah makan yang berjajar berada di situ.
Ku pikir dia bisa menolongku, ehh.. dia malah pergi. Tak lama kemudian dia pun kembali.
“Kak, beneran mau pekerjaan apa aja?” tanyanya bagai orang yang tak percaya.
“Iya, apa saja,” sahutku memastikannya.
“Hemp… cuci piring bisa?”
“Iya? Bisa.. bisa.. beneran ada?”
“Iya, tapi gak apa-apa kan? Dan bisanya cuma buat malam ini aja,” jelasnya merasa sedih.
“Iya, iya mau. Gak apa-apa kok,” aku berbinar-binar mendengarnya.
“Kak, beneran mau pekerjaan apa aja?” tanyanya bagai orang yang tak percaya.
“Iya, apa saja,” sahutku memastikannya.
“Hemp… cuci piring bisa?”
“Iya? Bisa.. bisa.. beneran ada?”
“Iya, tapi gak apa-apa kan? Dan bisanya cuma buat malam ini aja,” jelasnya merasa sedih.
“Iya, iya mau. Gak apa-apa kok,” aku berbinar-binar mendengarnya.
Aku pun diantar masuk ke dalam rumah makan tersebut oleh Syakilla, adik kelasku yang baik hati itu. Hampir dua jam aku baru bisa menyelesaikan semua pekerjaanku itu, aku bersyukur karena Allah mendengar doaku. Setelah itu aku diantar oleh Syakilla menemui pemilik rumah makan itu yang ternyata adalah Bibinya. Aku dibayar dan diberi tiga bungkus nasi dan lauk pauknya. Sebagai tanda terima kasih pada Syakilla karena sudah malam aku mengantarkan pulang Syakilla, hanya dengan berjalan kaki karena rumahnya tak jauh dari rumah makan itu.
“Hemp, kalau boleh tahu kenapa Kakak seperti ini?” tanya Syakilla, ketika kami sedang berjalan menuju rumahnya.
“Ceritanya panjang, entah aku bisa menceritakannya atau tidak. Makasih ya kamu mau menolongku,” aku tersenyum padanya. “Iya Kak, Sama-sama. Semua ini bukan karena aku, tapi karena usaha Kakak yang sungguh-sungguh sehingga Allah mengirim aku sebagai perantara agar membantu Kakak,”
“Hemp, Oh iya,” aku terdiam sejenak.
“Oh iya Kak, Ramadhani Al Fath itu Adik Kakak bukan?”
“Oh iya. Kenapa?”
“Ah tidak, hanya bertanya saja,”
“Ceritanya panjang, entah aku bisa menceritakannya atau tidak. Makasih ya kamu mau menolongku,” aku tersenyum padanya. “Iya Kak, Sama-sama. Semua ini bukan karena aku, tapi karena usaha Kakak yang sungguh-sungguh sehingga Allah mengirim aku sebagai perantara agar membantu Kakak,”
“Hemp, Oh iya,” aku terdiam sejenak.
“Oh iya Kak, Ramadhani Al Fath itu Adik Kakak bukan?”
“Oh iya. Kenapa?”
“Ah tidak, hanya bertanya saja,”
“Hemp, sudah sampe Kak,” lanjutku, saat ku menyadari bahwa telah sampai di dekat gerbang rumahku.
“Oh, ini rumahmu?” ku berkata.
“Iya, kenapa memang Kak? Mau mampir dulu?”
“Ah gak, makasih. Sudah malam gak enak,”
“Oh iya. Kalau gitu makasih ya Kak?”
“Iya sama-sama,” Aku melanjutkan langkahku menuju rumah.
“Oh, ini rumahmu?” ku berkata.
“Iya, kenapa memang Kak? Mau mampir dulu?”
“Ah gak, makasih. Sudah malam gak enak,”
“Oh iya. Kalau gitu makasih ya Kak?”
“Iya sama-sama,” Aku melanjutkan langkahku menuju rumah.
Setengah jam perjalanan dari tempat kerja yang ku dapat tadi, mengantarkan Syakilla hingga akhirnya aku tiba di rumah. Sudah hampir jam 11 malam, apa mereka sudah tidur? Rumah nampak sepi. “Nata, Rama di mana kalian?” aku berteriak dengan memanggil mereka sambil menuju kamar setelah menyimpan makanan di ruang makan. Ku lihat Nata sedang mengelus rambutnya Rama, mungkin agar Rama bisa tertidur dengan ditemani Nata.
“Kita makan yuk dan bangunkan Rama,” ajakku pada Nata.
“Memangnya ada makanan Kak?” tanya Reinata.
“Ada, tadi Kakak sudah belikan. Maaf Kakak telat, karena ada urusan dulu,” jelasku.
“Alhamdulillah,” Nata seraya bersyukur pada Allah.
“Rama, bangun yuk.. kita makan,” Nata membangunkan adik bungsunya itu.
“Kalian makan duluan ya? Makanannya sudah ada di ruang makan, tapi belum disiapkan masih di kantong. Kakak mandi dulu ya?” ucapku lalu pergi ke kamar mandi.
“Iya Kak,”
“Ada apa Kak?” Rama berkata sambil mengucek matanya.
“Kita makan yuk, Kak Raka tadi beli makanan,” Nata berbinar ketika memberitahu Rama ada makanan, karena dia tahu sekali adik bungsunya itu sejak dari magrib kelaparan dan berusaha menahannya hingga kini. “Yuk Kak, kita ke bawah,” ajak Rama bersemangat.
“Memangnya ada makanan Kak?” tanya Reinata.
“Ada, tadi Kakak sudah belikan. Maaf Kakak telat, karena ada urusan dulu,” jelasku.
“Alhamdulillah,” Nata seraya bersyukur pada Allah.
“Rama, bangun yuk.. kita makan,” Nata membangunkan adik bungsunya itu.
“Kalian makan duluan ya? Makanannya sudah ada di ruang makan, tapi belum disiapkan masih di kantong. Kakak mandi dulu ya?” ucapku lalu pergi ke kamar mandi.
“Iya Kak,”
“Ada apa Kak?” Rama berkata sambil mengucek matanya.
“Kita makan yuk, Kak Raka tadi beli makanan,” Nata berbinar ketika memberitahu Rama ada makanan, karena dia tahu sekali adik bungsunya itu sejak dari magrib kelaparan dan berusaha menahannya hingga kini. “Yuk Kak, kita ke bawah,” ajak Rama bersemangat.
—
Hampir dua minggu aku bolos sekolah, aku berusaha untuk mencari pekerjaan yang tetap, sayangnya belum ada satu pekerjaan yang bisa menerimaku tetap agar aku tak sulit mendapatkan uang lagi. Terkadang aku mendapatkan uang ataupun juga tidak sama sekali, tapi asalkan bisa memberikan adik-adikku makan itu pun sudah cukup. Aku berusaha menabung jika uang yang ku dapatkan lebih, tapi terkadang sering terkuras kembali karena kebutuhan yang mendesak. Suatu ketika aku sedang tidak di rumah. Rama pulang bersama seseorang, Nata pun membukakan pintu dan mempersilahkan tamunya masuk.
“Kalian tinggal dengan siapa?” tanya seorang perempuan cantik nan anggun itu.
“Sama Kak Raka,” Rama menjawabnya polos sambil bermain ps.
“Tidak ada yang lain? Bagaimana kebutuhan kalian?”
“Kebutuhan kita berdua yaa ditanggung oleh Kak Raka,” jawab Reinata.
“Memangnya apa kerjaan Kakak kalian?”
“Kita gak tahu, soalnya Kak Raka gak pernah cerita. Kak Raka sebelum pergi kerja cuma berpesan jangan lupa bersihkan rumah. Gitu aja,”
“Sama Kak Raka,” Rama menjawabnya polos sambil bermain ps.
“Tidak ada yang lain? Bagaimana kebutuhan kalian?”
“Kebutuhan kita berdua yaa ditanggung oleh Kak Raka,” jawab Reinata.
“Memangnya apa kerjaan Kakak kalian?”
“Kita gak tahu, soalnya Kak Raka gak pernah cerita. Kak Raka sebelum pergi kerja cuma berpesan jangan lupa bersihkan rumah. Gitu aja,”
“Kapan Kakak kalian akan pulang?”
“Sebentar lagi juga pulang, soalnya kan dari pagi berangkatnya,”
“Lalu bagaimana dengan sekolahnya?”
“Gak tahu, tapi katanya itu mah gampang. Gitu katanya,” Perempuan itu langsung terdiam. Seseorang seperti ada yang membuka pintu rumah, kami pun melihat ke arah pintu itu. Ternyata benar Kak Raka pulang, tapi dia melangkah seperti orang yang pincang dan membawa sebuah bungkusan yang berisi makanan.
“Sebentar lagi juga pulang, soalnya kan dari pagi berangkatnya,”
“Lalu bagaimana dengan sekolahnya?”
“Gak tahu, tapi katanya itu mah gampang. Gitu katanya,” Perempuan itu langsung terdiam. Seseorang seperti ada yang membuka pintu rumah, kami pun melihat ke arah pintu itu. Ternyata benar Kak Raka pulang, tapi dia melangkah seperti orang yang pincang dan membawa sebuah bungkusan yang berisi makanan.
“Kak kenapa?” Nata kaget melihat langkahku lalu mencoba menghampiri kakaknya itu.
“Gak, gak kenapa-kenapa kok,” jawabku singkat. Nata berusaha membantuku melangkah. “Ada siapa?” tanyanya.
“Ada Kak Syakilla, guru lesnya Rama. Dia ke sini karena ingin tahu mengapa sudah seminggu ini Rama tidak mengikuti les,”
“Oh. Ini kalian makan duluan ya, Kakak nanti saja. Makannya di ruang makan aja,” Aku memberikan bungkus makanan itu padanya lalu mendekati Syakilla yang sedang duduk.
“Kak,” Syakilla seraya menyapaku dan tersenyum.
“Ada apa Kil?” tanyaku padanya.
“Gak ada apa-apa kok Kak, hanya ingin tahu keadaan Rama saja,”
“Gak, gak kenapa-kenapa kok,” jawabku singkat. Nata berusaha membantuku melangkah. “Ada siapa?” tanyanya.
“Ada Kak Syakilla, guru lesnya Rama. Dia ke sini karena ingin tahu mengapa sudah seminggu ini Rama tidak mengikuti les,”
“Oh. Ini kalian makan duluan ya, Kakak nanti saja. Makannya di ruang makan aja,” Aku memberikan bungkus makanan itu padanya lalu mendekati Syakilla yang sedang duduk.
“Kak,” Syakilla seraya menyapaku dan tersenyum.
“Ada apa Kil?” tanyaku padanya.
“Gak ada apa-apa kok Kak, hanya ingin tahu keadaan Rama saja,”
“Oh, jadi kamu guru lesnya Rama ya? Maaf ya, untuk saat ini Rama gak bisa ikut les dulu,” ucapku.
“Iya, oh.. iya gak apa-apa kok Kak, Reinata juga tadi sudah menjelaskannya pada saya. Saya ngerti, tapi kalau boleh saya masih ingin mengajarkan Rama, itu pun kalau Kakak mengizinkan karena Rama termasuk anak yang rajin dan pintar aku pikir sayang sekali jika kemampuan Rama tidak dikembangkan,” jelas Syakilla.
“Tapi aku gak sanggup buat bayar lesnya Rama,”
“Iya, oh.. iya gak apa-apa kok Kak, Reinata juga tadi sudah menjelaskannya pada saya. Saya ngerti, tapi kalau boleh saya masih ingin mengajarkan Rama, itu pun kalau Kakak mengizinkan karena Rama termasuk anak yang rajin dan pintar aku pikir sayang sekali jika kemampuan Rama tidak dikembangkan,” jelas Syakilla.
“Tapi aku gak sanggup buat bayar lesnya Rama,”
“Gak Kak, untuk Rama kali ini aku gak mengharapkan sebuah imbalan karena ini di luar jam les,”
“Jika Rama mau, ya silahkan. Tapi aku gak enak sama kamu, tentu saja waktu kamu sangat berharga. Aku gak ada waktu untuk mengajarkan Rama dan kemampuanku pun terbatas,”
“Kata sapa? Aku tahu prestasi Kakak. Jangan merendah begitu,” ucap Syakilla sambil tersenyum. Syakilla terus membujukku agar aku mengizinkan dia untuk bisa mengajari Rama belajar, akhirnya aku kalah bicara olehnya maka ku izinkan dia untuk selalu datang ke rumah setiap seminggu dua kali.
“Jika Rama mau, ya silahkan. Tapi aku gak enak sama kamu, tentu saja waktu kamu sangat berharga. Aku gak ada waktu untuk mengajarkan Rama dan kemampuanku pun terbatas,”
“Kata sapa? Aku tahu prestasi Kakak. Jangan merendah begitu,” ucap Syakilla sambil tersenyum. Syakilla terus membujukku agar aku mengizinkan dia untuk bisa mengajari Rama belajar, akhirnya aku kalah bicara olehnya maka ku izinkan dia untuk selalu datang ke rumah setiap seminggu dua kali.
“Kak bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Syakilla kembali.
“Udah gak bisa dilanjutin lagi Kil,”
“Tapi kan nanggung, ini udah semester dua awal,”
“Iya, tapi kamu tahu sendiri kan gimana keadaanku. Jika tak ada Reinata dan Rama entah bagaimana aku sekarang, aku bertahan pun karena mereka,”
“Kak, apa tidak sebaiknya mencari kerja paruh waktu agar Kakak bisa sekolah? Sampai Kakak mendapatkan ijazah SMA saja agar nanti bisa lebih mudah dalam mencari pekerjaan yang lebih baik Kak,”
“Aku gak bisa, sungguh aku gak sanggup untuk biayanya. Mungkin kamu tahu itu,”
“Iya Kak aku ngerti kok,”
“Udah gak bisa dilanjutin lagi Kil,”
“Tapi kan nanggung, ini udah semester dua awal,”
“Iya, tapi kamu tahu sendiri kan gimana keadaanku. Jika tak ada Reinata dan Rama entah bagaimana aku sekarang, aku bertahan pun karena mereka,”
“Kak, apa tidak sebaiknya mencari kerja paruh waktu agar Kakak bisa sekolah? Sampai Kakak mendapatkan ijazah SMA saja agar nanti bisa lebih mudah dalam mencari pekerjaan yang lebih baik Kak,”
“Aku gak bisa, sungguh aku gak sanggup untuk biayanya. Mungkin kamu tahu itu,”
“Iya Kak aku ngerti kok,”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar