Suasana makin tegang terasa. Pesuruh Rae’ menubruk Aoda dan langsung menghajar Aoda yang telah berani bicara kurang ajar tentang negaranya. Aoda membalas pesuruh itu. Terjadilah pergulatan di antara mereka. Hidung Aoda kena hantam, sehingga darah bercucuran dari sana. Tabib Ismail melerai pertikaian, tapi dengan segera Pate’, pro-Bore’ menerkam Tabib Ismail. Pertarungan itu semakin sengit karena seluruh anggota kubu masing-masing saling menyerang. Rae’ sendiri menyelinap pergi dari pertikaian. Saling meninju, menerkam, menghantam, bahkan menusuk. Ambisi kedua kubu berseberangan pendapat itu tak terbendung darah berceceran di rumah Bore’ dan sekitarnya. Bahkan rumah Bore’ sendiri pun dibakar oleh kubu Tabib Ismail. Istri dan anak-anaknya kabur ke hutan. Sedang anak tertuanya, Bagua, tewas tertusuk keris di perutnya.
Matahari meninggi. Aoda siuman dari pingsannya. Dia menemukan dirinya tergeletak di bawah kandang kambing. Saat ia bangkit, kepalanya pening karena terlalu banyak kena hantam. Lengan dan punggungnya terluka akibat sabetan benda tajam. Tabib Ismail gugur dalam perang saudara ini. Aoda melangkah ke area perang saudara semalam. Langkahnya limbung. Keadaan sudah aman. Meski kampung menjadi kacau balau. Terlebih rumah panggung Bore’, hangus dibakar oleh kubu tabib Ismail. Aoda menemukan Bore’ duduk terpekur di depan bekas rumahnya.
“Aku tak lagi memintamu untuk mendengarkan kata-kataku. Kau sendiri pun bisa melihat semua kekacauan ini,” ucap Aoda, saat sampai di sisi Bore’.
“Harusnya kau tidak membantahku. Harusnya seluruh warga mengikuti kataku untuk hijrah ke Malaysia. Ikuti saja aku, bukankah aku kepala kampung ini?” Bore’ menekan-menekan ucapannya.
“Harusnya kau tidak membantahku. Harusnya seluruh warga mengikuti kataku untuk hijrah ke Malaysia. Ikuti saja aku, bukankah aku kepala kampung ini?” Bore’ menekan-menekan ucapannya.
“Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tamajuk! Tamajuk adalah kita. Sekeping tanah yang masih bagian dari deretan judul besar itu. Tahukah kau Bore’, Indonesia dijajah berabad-abad lamanya. Kau tentu ingat tentang penderitaan waktu itu, bukan? Bertahun-tahun lewat Indonesia merdeka, yang diperjuangkan dengan segenap jiwa raga dan darah, mengapa kau rela mengkhianati tanah airmu sendiri, Bore’?” Aoda memberi pengertian pada Bore’. Bore’ terpekur menyimak. Wajah Bore’ berubah berangsur-angsur cerah, seperti telah terbangun dari sebuah mimpi buruk.
“Aku harap kau membatalkan perjanjianmu dengan Rae,” tegas Aoda.
“Tidak mungkin bisa,” kata Bore’.
“Mengapa? Kau yang memulai dan kau harus mengakhiri,”
“Tidak mungkin bisa,” kata Bore’.
“Mengapa? Kau yang memulai dan kau harus mengakhiri,”
Seminggu berselang, Rae datang lagi ke Tamajuk, selalu bersama abdi setianya. Laki-laki ceking penghisap cangklong itu menemui Bore’.
“Macam mana kabar engkau?” tanya Rae’ ramah.
“Baik,” jawab Bore’ singkat.
“Bagaimana kalau kita bicarakan perjanjian yang kita buat?” tanya Bore’ kemudian.
“Macam mana?”
“Macam mana kabar engkau?” tanya Rae’ ramah.
“Baik,” jawab Bore’ singkat.
“Bagaimana kalau kita bicarakan perjanjian yang kita buat?” tanya Bore’ kemudian.
“Macam mana?”
“Aku ingin perjanjian itu batal, Rae’. Apa yang telah kita buat nyatanya membuat warga kampungku saling berpecah belah dan saling membunuh. Aku tak ingin lebih banyak korban berguguran,” kata Bore’, memohon pengertian, Rae terperanjat. “Tak bisa dapat macam itu! Engkau telah menyetujui, dan itu risikomu!” teriak Rae’.
“Engkau telah berjanji akan menyerahkan kampung ini padaku. Sekarang, engkau mengingkarinya?!” Rae marah.
“Aku tak nak lagi dengar alasanmu. Kalau engkau tak nak menyerahkan Tamajuk, aku akan menyerang!” ancam Rae’, mata Bore’ melotot.
“Engkau telah berjanji akan menyerahkan kampung ini padaku. Sekarang, engkau mengingkarinya?!” Rae marah.
“Aku tak nak lagi dengar alasanmu. Kalau engkau tak nak menyerahkan Tamajuk, aku akan menyerang!” ancam Rae’, mata Bore’ melotot.
“Rae maafkan aku karena mengingkari perjanjian. Aku akan memberimu apa saja asalkan kau tak menguasai Tamajuk. Aku tak mungkin melepaskan Tamajuk dari Indonesia. Kan ku berikan engkau emas, cengkeh, pala, lembu, domba, tapi jangan memintaku menyerahkan Tamajuk,” penuh tekanan pada kata-katanya.
“Cuih! Miskin, sombong nian mulutmu! Engkau sendiri yang ingin hijrah ke Malaysia, dan memberikan Tamajuk sebagai gantinya! Pengkhianat!” maki Rae’ kepada Bore’.
“Pokoknya, aku tidak akan menyerahkan Tamajuk! Titik! Pergi sana!” Bore’ emosi.
“Tunggu seranganku, pengkhianat!!” ancam Rae’ sambil berlalu pergi, marah menggumpal-gumpal di dadanya.
“Cuih! Miskin, sombong nian mulutmu! Engkau sendiri yang ingin hijrah ke Malaysia, dan memberikan Tamajuk sebagai gantinya! Pengkhianat!” maki Rae’ kepada Bore’.
“Pokoknya, aku tidak akan menyerahkan Tamajuk! Titik! Pergi sana!” Bore’ emosi.
“Tunggu seranganku, pengkhianat!!” ancam Rae’ sambil berlalu pergi, marah menggumpal-gumpal di dadanya.
Di rumahnya, Aoda yang masih sangat muda, memimpin musyawarah untuk mengantisipasi serangan dari Rae’ dan pasukannya. Seluruh warga hadir dalam musyawarah itu. Bore’ datang, kemudian menceritakan pertemuannya dengan Rae’ tempo hari. “Saudara-saudara, Rae’ tidak mau membatalkan perjanjian ini. Dia mengancam akan menyerang jika kita tidak mau menyerahkan Tamajuk,” Cerita Bore’.
“Jika kita menyerahkan Tamajuk kepada Malaysia, kita akan tinggal di mana?” tanya Satam.
“Bukankah kita akan tinggal di Malaysia?” tanya Berahim kembali.
“Aku yakin itu hanya akal-akalan mereka saja saat kita hijrah, kita tak akan diberi kebaikan segenggam pun. Malah kita akan diinjak-injak di sana,” cetus Modin, tiba-tiba Aoda berseru.
“Jika kita menyerahkan Tamajuk kepada Malaysia, kita akan tinggal di mana?” tanya Satam.
“Bukankah kita akan tinggal di Malaysia?” tanya Berahim kembali.
“Aku yakin itu hanya akal-akalan mereka saja saat kita hijrah, kita tak akan diberi kebaikan segenggam pun. Malah kita akan diinjak-injak di sana,” cetus Modin, tiba-tiba Aoda berseru.
“Bangun! Bangunlah warga Tamajuk! Wilayah kita sedang terancam keberadaannya. Jangan lengah! Jangan biarkan Malaysia merebut lagi bagian dari wilayah Indonesia,”
Seketika seluruh warga yang ada dalam pertemuan itu bersorak, memekikkan semangat-semangat.
“Tamajuk adalah Indonesia!”
“Indonesia utuh dan merdeka!”
Seketika seluruh warga yang ada dalam pertemuan itu bersorak, memekikkan semangat-semangat.
“Tamajuk adalah Indonesia!”
“Indonesia utuh dan merdeka!”
Petang hari Rae’ dan pasukannya menyerbu kampung Tamajuk. Sejumlah 173 orang pasukan Rae’ dipersenjatai. Mulanya masuk dari sisi utara kampung. Dengan mudah mereka menyebar ke segala penjuru kampung. Dan dengan mudah pula Bore’ tertangkap. “Inilah akibatnya bila engkau berani macam-macam denganku,” desis Rae’ di samping wajah Bore’. Wajah Bore’ tetap tenang. Dia tahu pasukannya juga telah siap tempur.
“Engkau tak nak hijrah, tak nak beri kampung ini, nak mati di sini, ha?!” bentak anak buah Rae’. Bore’ diam saja.
“Pasukan, serang warga dari segala penjuru. Sandera para wanita dan anak-anak. Lakukan!” Komando Rae’ pada pasukannya.
“Engkau tak nak hijrah, tak nak beri kampung ini, nak mati di sini, ha?!” bentak anak buah Rae’. Bore’ diam saja.
“Pasukan, serang warga dari segala penjuru. Sandera para wanita dan anak-anak. Lakukan!” Komando Rae’ pada pasukannya.
12 April 1990
Mulailah perang antara warga Tamajuk-Indonesia dengan warga Serikin-Malaysia. Aoda turut berperang. Anak panah, parang, pedang, semuanya telah ia lumuri racun, dibawanya. Aoda belia menyaksikan tragedi ini, ia melihat beberapa orang Malaysia itu mengeroyok Modin. Hatinya miris. Sambil bersembunyi, Aoda meluncurkan anak panahnya ke orang-orang Malaysia itu, dan ambruk seketika. Tiba-tiba seorang menyentak bajunya dari belakang, orang itu langsung menghajar Aoda. Aoda jatuh, bangkit lagi, melawan, jatuh lagi, bangkit lagi dan melawan. Rupanya lawannya terlalu kuat untuk dirinya.
Mulailah perang antara warga Tamajuk-Indonesia dengan warga Serikin-Malaysia. Aoda turut berperang. Anak panah, parang, pedang, semuanya telah ia lumuri racun, dibawanya. Aoda belia menyaksikan tragedi ini, ia melihat beberapa orang Malaysia itu mengeroyok Modin. Hatinya miris. Sambil bersembunyi, Aoda meluncurkan anak panahnya ke orang-orang Malaysia itu, dan ambruk seketika. Tiba-tiba seorang menyentak bajunya dari belakang, orang itu langsung menghajar Aoda. Aoda jatuh, bangkit lagi, melawan, jatuh lagi, bangkit lagi dan melawan. Rupanya lawannya terlalu kuat untuk dirinya.
Dalam kegentingan situasi yang memojokkan Aoda, Satam datang dari belakang orang Malaysia itu, lantas menghunuskan pisau dadanya, kemudian orang itu terjatuh dan tewas di tempat. Warga tamajuk terus melawan pasukan Rae’. Gelap, resah, lelah, dan perih menyelimuti peristiwa ini. Hingga dini hari, kubu Rae’ masih sulit dilumpuhkan. Bore’ tak henti-hentinya menghabisi pasukan Rae’ dengan jurus silatnya. Sementara itu korban tewas terus berjatuhan. Aoda menemukan Rae’ yang tengah memukuli Kasim. Kasim tanpa senjata, tak berkutik diserang Rae, saat Aoda merangsek ke area itu, seseorang menahannya.
“Bore’,” Aoda berbisik, ketika menoleh ke arah orang itu.
“Biar aku yang membereskan Rae’,” bisik Bore’ pada Aoda.
“Biar aku yang membereskan Rae’,” bisik Bore’ pada Aoda.
Bore’ menendang Rae’ hingga terjungkal. Modin yang sudah bersimbah darah ketakutan melihat dua kepala kampung itu berkelahi dengan jurus silatnya. Aoda membalut luka Modin dengan kain yang ia sobek dari bajunya sendiri. Sepertinya Rae’ lebih kuat dari Bore’. Berkali-kali Bore’ ambruk, silat macan akarnya tak lagi dapat menandingi Rae’. Aoda turun tangan. Ia menarik panahnya, Bore’ sudah megap-megap. Anak panah Aoda meluncur, menancap di punggung Rae’. Seketika ia mengerang kesakitan. Racun yang ada pada anak panah itu mulai bereaksi dalam tubuh Rae’. Rae’ berteriak-teriak kesakitan. Anak-anak buahnya menghampirinya, kemudian beradu dengan Modin dan Aoda. Di tengah-tengah kejadian itu, Aoda menarik parangnya dari tempatnya di sisi pinggang. Bore’ dan Rae’ terus bergulat meski keduanya sudah lemah. Aoda menghunuskan parangnya ke dada Rae’. Kepala kampung Serikin itu tewas seketika, anak buahnya yang menyaksikan itu, terkejut tak percaya pemimpinnya telah meregang nyawa.
Fajar menyingsing, pasukan serikin sudah minggat dari Tamajuk. Perang itu menyisakan keporak-porandaan besar, pasukan Serikin sudah menyerah tanpa syarat, karena pemimpinnya sudah gugur. Ku simak kisah mengharukan ini. Air mata Aoda meleleh dari pipinya ketika menceritakan itu semua. Masih tak dapat ku cerna dalam pikirku bahwa Aoda pada saat usianya 17 tahun turun ke medan perang dan menjadi pahlawan.
“Setelah peristiwa itu, hubunganku dengan Bore’ semakin membaik. Ku praktikan seluruh ilmu yang ku dapatkan selama bersekolah dulu, ke dalam bidang-bidang pertanian dan perekonomian,” mata Aoda menerawang jauh ke air danau. Lengan besar Aoda merangkulku.
“Kau terlalu lama menghilang dari kampung ini, kawan,” kata Aoda kemudian. Aku tersenyum kepadanya.
“Ya, di sini banyak sekali hal yang telah terlewat tanpa aku,” kataku.
“Kau terlalu lama menghilang dari kampung ini, kawan,” kata Aoda kemudian. Aku tersenyum kepadanya.
“Ya, di sini banyak sekali hal yang telah terlewat tanpa aku,” kataku.
Ku lihat kampungku semakin maju. Sektor pertanian dan perkebunan semakin membaik. Pertambangan bauksit dan timah sangat menguntungkan kampung kami. Akses jalan dari kota kecamatan ke Tamajuk juga sudah bisa dilewati mobil dan truk. Aku memandangi wajah sahabatku itu. Dia hanya seseorang pemberani dan survivor lulusan SMA, tapi bisa mengubah sebuah kampung miskin menjadi lebih baik. Sedangkan diriku, seorang sarjana, tapi tak mampu mengubah apa pun untuk orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar