Sabtu, 26 November 2016

hera si pelari

Bukan Hera namanya jika ia tidak pandai dalam hal berlari. Hera adalah seorang anak yang tangguh dan mempunyai semangat yang tinggi. Banyak orang yang menganggumi Hera, bukan hanya itu saja, Hera sangatlah rendah hati dan sangat berbakti kepada orangtuanya. Hera pun mempunyai banyak teman. Teman-temannya sangat mendukung Hera untuk berlari lebih cepat lagi.
Suatu hari, terdapat kompetisi Atletik. Hera ingin sekali mengikuti pertandingan tersebut, tetapi Hera yakin bahwa ia tidak akan mendapat dukungan dari orangtuanya, karena orangtua Hera menginginkan Hera menjadi penari dan bukan pelari. Hera hampir saja putus asa, namun berkat dukungan dari teman-teman dan guru olahraganya, Hera membulatkan tekad untuk mengikuti kompetisi tersebut dan membuktikan kepada orangtuanya, bahwa hera bisa! Bisa menjadi atlit lari!
“Hera, kamu yakin mau memilih berlari saja?” tanya salah satu teman Hera yang bernama Fitri Nurbani.
“Iya, Hera. Apa kamu yakin? Kamu tidak takut kalau Mama sama Papa memarahi kamu?” ujar Elma.
“Ng… aku sudah yakin dan aku akan membuktikan pada mereka bahwa aku bisa, hehehe.”
“Tapi kan syarat mengikuti pertandingan itu, harus mendapat izin orangtua. Terus kan kamu pasti dimarahi mereka jika mereka tau.” Seru Wulan.
“Nah itu yang jadi masalahnya, aku bingung bagaimana mencari cara agar aku mendapat izin dari Mama dan Papa.” Hera tertunduk lesu.
“Kamu harus berjuang Hera! Bukankah semuanya butuh pengorbanan. wkwkwk.” Ucap Fitri.
“Cie cie, tumben Fitri ngomongnya begitu. Hahaha.” Kata Elma dan Wulan serempak.
“Iya dong, soalnya aku kan teman yang baik. Iya kan Hera?” menoleh kepada Hera.
Hera mengangguk dengan semangat. “Kalau begitu aku akan berjuang! Berjuang agar Mama dan Papa mengizinkanku.” Tekadnya.
“Ma, Pa.” ucap Hera kepada Papa dan Mamanya yang sedang duduk meminum teh di ruang keluarga.
“Iya Ra.” Kata Mama.
“Ma, Hera mempunyai permintaan.” Ujarnya sambil duduk di hadapan orang tuanya.
“Permintaan apa?”
“Tapi Mama sama Papa janji jangan marah ya?”
“Iya tapi apa dulu.” Kata Papa.
“Ng…” Hera garuk-garuk kepala, “Hera mau ikut pertandingan lari.”
“Hah? Lari?” Mama sontak kaget.
“Iya Ma.”
“Gak boleh, kamu harus jadi penari. Papa sama Mama gak mau tau!” sahut Papa.
Hera hampir saja menangis, namun ditahan karena ia kan anak yang tangguh. Hera pun bergegas ke kamarnya karena percuma saja memohon-mohon karena tidak akan dikabulkan oleh orangtuanya.
Keesokan harinya..
Pertandingan berlari akan diadakan pukul 9 pagi, namun Hera terlihat sangat lesu tak bersemangat. Lalu Pak guru kebingungan melihat Hera.
“Hera kenapa?” tanya Pak guru.
Hera pun menceritakan semuanya, jika Hera tidak mendapat izin dari orangtuanya untuk mengikuti kompetisi Atletik. Pak guru pun memberikan motivasi kepada Hera, dan Hera pun bangkit kembali, jika ia akan mengikuti pertandingan berlari dan membawa medali emas untuk orangtuanya.
Pada pukul 08.30 Hera mendaftarkan diri, dan mengikuti lari yang berjarak 100 meter.
Pak guru dan teman-temannya terus berteriak memberikan semangat. Hera pun tersenyum dan mengangguk yakin, bahwa ia pasti bisa. Dengan jantung yang berdebar-debar, Hera melakukan start jongkok karena diperintahkan oleh panitia. Beberapa lawan terlihat gugup, namun Hera harus tetap optimis.
Setelah panitia memberikan aba-aba, semua peserta mulai berlari secepat mungkin. Posisi ke satu dipimpin oleh Nabila, kedua oleh Fantria, dan posisi ke tiga oleh Hera. Namun Hera tak berhenti begitu saja, ia terus menambah kecepatan untuk menyusul Nabila dan Fantria, karena garis finish sebentar lagi sampai, Hera pun mengayunkan tangannya dan memperpanjang langkahnya, alhasil ia hanya berbeda beberapa senti dengan Nabila, padahal garis finish sebentar lagi, Hera pun teringat jika ia mendapatkan juara 1, Hera akan membuktikan kepada orangtuanya jika ia berhak menjadi pelari. Garis finish 10 meter lagi, Hera pun mempercepat lagi langkah kakinya. Perbandingan Hera dengan Nabila pun sama, lalu Hera mencondongkan badannya saat garis finish terlintasi. Alhasil Hera tersenyum bahagia karena ia mendapatkan juara 1 lari 100 meter.
Pak guru dan teman-temannya bersorak bangga kepada Hera, dan semua penonton bertepuk tangan sangat meriah. Dan itu membuat Hera bertambah semangat.
Tanpa terasa di sudut lapangan, terdapat Papa dan Mama yang sedang tersenyum bangga. Hera melihat Papa dan Mama, terlintas di pikiran Hera bahwa Papa dan Mama akan memarahinya, tetapi saat melihat mereka tersenyum, Hera yakin bahwa mereka bangga kepada Hera.
Hera pun berlari menghampiri Papa dan Mama, lalu memeluk mereka.
“Papa sama Mama bangga.” Ucap Mama.
“Maafkan Papa sama Mama ya, Hera. Karena tidak mengizinkan Hera untuk mengikuti pertandingan lari. Mulai sekarang, Hera boleh berlari lagi, dan sebagai syaratnya, Hera harus membawa pulang kejuaraan.” Ujar Papa.
“Iya Ma, Pa. Hera berjanji, jika Hera akan menjadi juara selamanya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar