Sabtu, 26 November 2016

keinginan terakhir ayah

Ali, itulah nama dari seorang anak yang dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu di Kampung Mekarsari, Sleman, Yogyakarta. Sebuah perkampungan kecil di antara perkebunan salak. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya Dea kelas 4 SD, ayahnya bekerja sebagai penjual salak dan ibunya tidak bekerja. Karena keadaan ekonomi yang kekuranagan Ali harus membantu ayahnya berjualan salak dan harus menamatkan sekolahnya di kelas 6 SD. Terkadang ia iri ketika melihat teman sebayanya memakai seragam sekolah dan bersekolah bersama. Tetapi apa boleh buat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja harus mencari uang kesana-kemari apalagi menyekolahkannya lagi. Meskipun begitu ia menjalaninya dengan sabar dan ikhlas.
Pagi ini seperti biasa ia membantu ayahnya berjualan salak. Hari ini sedikit berbeda karena mereka dapat sarapan meskipun hanya sebuah ubi. Bahkan terkadang ia sering berpuasa karena tidak mempunyai uang untuk membeli makanan. Meskipun begitu sosok ibu yang selalu memberikan semangat untuk kuat dalam menjalani kehidupan dengan segala keterbatasan ini membuat Ali semakin bersungguh sungguh dalam bekerja.
Ketika di perjalanan menuju pasar, dada ayah Ali merasa sesak. Ali segera mencari bantuan dan membawanya ke puskesmas terdekat. Ayah Ali disarankan untuk berobat di rumah sakit, akan tetapi ia menolaknya karena harus mengeluarkan uang sedangkan untuk makan saja susah. Tidak mau lama-lama mereka berdua meninggalkan puskesmas. Selama di perjalanan pulang Ali terus memikirkan keadaan ayahnya. Ali takut jika ayahnya tidak berobat di rumah sakit hal-hal yang tidak diinginkan akan terjadi.
Ketika Ali dan ayahnya sampai di rumah, tiba-tiba Dea memberikan surat kepada ayahnya yang berisi tentang tagihan untuk segera membayar biaya sekolah. Alangkah sedihnya Ali mendengar hal itu, ia pun tidak berani mengatakan kepada ibunya tentang peristiwa yang terjadi tadi siang. Ali tidak bisa tidur karena ia bingung memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan uang dalam waktu cepat.
Keesokan harinya Ali pergi mencari pekerjaan, iapun mendapat pekerjaan meskipun hanya memindahkan karung beras. Memang gajinya tidak seberapa, tetapi cukup untuk membeli makanan untuk hari ini. Tak terasa waktu begitu cepat, Ali meminta izin kepada pemilik toko untuk pulang dan meminta butiran butiran beras yang masih tersisa di truk. Ia segera mengumpulkannya dan membawanya pulang. Sesampainya di rumah, beras yang dibawa Ali pun dimasak oleh ibu dengan lezatnya. Mereka semua bersyukur karena bisa memakan nasi meskipun dengan lauk seadanya, karena bagi mereka nasi merupakan makanan yang sangat mewah.
Hari ini hari kedua Ali bekerja di tempat beras, akan tetapi disaat ia sedang menurunkan beras dari truk ke toko tiba-tiba seorang pekerja lain sengaja menyenggol tubuh Ali. Sontak Ali terjatuh dan beraspun berceceran, karena hal ini ia dipecat olah pemilik toko karena dianggap lalai dalam bekerja. Ali pun pulang dengan keadaan tangan kosong. Di tengah perjalanan ia hampiri oleh temannya yang bernama Sandi. Sandi menawarkan pekerjaan di Jakarta, tanpa berpikir panjang Alipun menerima tawaran tersebut. Ia segera memberitahukan hal ini kepada ayah dan ibunya, merekapun menyetujuinya.
Keesokan harinya Ali berangkat bersama Sandi ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta mereka berdua tinggal di rumah peninggalan kakek Sandi. Mereka mulai bekerja sebagai kuli bangunan. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan mereka lalui, Ali berfikir untuk mengirim uang untuk keluarganya di kampung. Tiba-tiba ia mendapatkan kabar bahwa ayahnya sudah tiada, ia langsung menuju ke kampung halamannya. Sesampainya disana, ibunya memeluknya dan menceritakan semua hal sebelum kepergiannya. Satu hal yang ayah inginkan adalah membeli tanah perkebunan salak, karena selama ini dari buah salaklah ayah dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Ali berjanji kepada ibunya bahwa ia akan membeli tanah tersebut.
Setelah beberapa hari, Ali kembali ke Jakarta dan ia ingin bisa memenuhi permintaan ayahnya itu. Ia bekerja apa saja asalkan halal. Hari demi ia lewati dengan penuh perjuangan, keringat yang sering menetes dari kulitnya, dan kakinya yang berwarna hitam sebagai bukti perjuangannya dalam bekerja semua kisah yang pernah ia lewati akan selalu digoreskan melalui tinta pada secarik kertas. Ia sangat mencintai keluarganya, ayahnya, ibunya, adiknya.
Setelah ia merasa bahwa uangnya sudah cukup untuk membeli tanah, ia segera pulang menuju kampungnya. Ia pun segera membeli tanah tersebut, ia meminta restu kepada ibunya untuk membuat sebuah usaha produk makanan dari buah salak. Ibunya pun merestui tindakan tersebut. Usaha tersebut terus mengalami kenaikan hingga Ali berpikir bahwa ia akan mendirikan sebuah usaha di kota-kota besar. Lima tahun sudah berlalu begitu cepatnya Ali yang dahulu hanya seorang pedagang salak kini menjadi pengusaha besar di kota, bahkan produk makanannya sudah sampai dijual ke luar negeri. Ali menyadari bahwa anak kampung yang memiliki keterbatasan ekonomi, namun jika ia selalu berusaha, berusaha, dan berusaha pasti akan berhasil.
Amanat:
Kita harus menjalani problema kehidupan dengan ikhlas, sebab disitulah mental kita diuji.
Dengan usaha dan kerja keras maka apa yang kita cita-citakan dapat menjadi suatu kenyataan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar