Sabtu, 26 November 2016

sebelah mata

“Menunggu bus nak?” Tanya seorang Bapak-Bapak kembali menyadarkanku dalam lamunan. Aku hanya mengangguk.
Ku tatap wajah lelaki yang tadi membuat lamunanku berlari menjauh. Tampak kerutan-kerutan di wajahnya. Tubuhnya yang tinggi kurus itu menenteng sebuah karung putih. Entah apa isinya. Berhasil membuatku penasaran, tapi aku malu menanyakannya. Diusapnya beberapa kali peluh yang menetes di wajahnya dengan sapu tangan lusuh bertuliskan Indonesia. Mungkin karena rasa cintanya terhadap Negara ini yang terlalu dalam.
“Bapak mau ke mana?” tanyaku membuka percakapan.
“Ke pasar wlingi nak, oh ya panggil saja saya pak Rahmat.”
“iya pak, saya Tina pak. Sepertinya kita searah pak.”
“Nak Tina mau ke wlingi juga?”
“Iya pak ke rumah saudara. Bapak ada perlu apa ke pasar wlingi?”
“Ini nak mengantarkan pesanan singkong.” Diperlihatkannya umbi singkong yang masih berbau tanah itu padaku.
“Wah jauh sekali pak dari kepanjen ke wlingi. Kenapa tidak dijual di pasar kepanjen saja pak?”
“Iya biasanya dijual di sana nak, tapi karena kemaren pembelinya membawa barang bawaan banyak, Bapak diminta mengantarkannya ke sana.” Belum sempat bertanya lagi. Bus putih bertuliskan Bagong itu berhenti di depan kami. Ku tuntun pak Rahmat.
Ku raih karung putih yang dibawanya. Bekas merah bertengger di jemariku.
“Jangan nak berat” kata pak Rahmat tertelan bising mesin bus. Aku hanya tersenyum mendengar samar tuturnya.
“Ternyata berat juga” batinku.
Aku ingin bertanya banyak hal padanya. Bertanya tentang kisahnya dan bertanya tentang keluarganya. Beruntung masih ada dua kursi kosong untuk aku dan pak Rahmat. Kami duduk bersebelahan. Ku tahan beribu tanya yang berkecamuk. Ku biarkan pak Rahmat menyandarkan tubuhnya sejenak di kursi bus. Koaran-koaran kernet bus memekikkan gendang telingaku. Bau kecut keringat perjuangannya singgah ke bulu-bulu hidungku. Lantunan-lantunan syair pengamen jalanan berhasil menggambarkan senyum di wajahku. Ku tatap pak Rahmat yang mulai terbangun dari rangkaian mimpinya.
“Sudah bangun pak?” pak Rahmat tersenyum dan mengucek-ngucek matanya.
“ini di mana nak?”
“Bendungan lahor Karang Kates pak, masih jauh kok pak. Bapak kenapa ke wlingi sendirian pak?”
“Lah mau minta diantar siapa nak. Semua keluarga Bapak sudah tidak ada.” Aku tak berani bertanya lagi. Seperti ada sesuatu yang mengganjal tenggorokanku.
“Kabeh dadi korbane Londo nduk,” lanjut pak Rahmat dengan nada suara yang bergetar.
Pandangannya menerawang jauh. Bibirnya yang mulai kelu itu mulai berkisah masa purba. Masa ia masih bergabung dengan gerakan pemuda yang melawan penindasan belanda. Terlihat di sudut matanya butiran yang jatuh tanpa tertahan.
“Dentuman bom dan peluru itu menyatu. Seakan telah menjadi sahabat dalam hariku. Menjadi hal yang tak asing lagi. Benda panas yang merenggut beribu nyawa sahabat-sahabatku. Meski aliran darah segar terasa mengalir di keningku. Aku enggan menghentikan langkah. Aku berlari menuju gubuk kecil tempat anak dan istriku bersembunyi. Rasa perih tak lagi aku gubris. Hanya ada bayangan senyuman anak-anak dan istriku. Teringat masa kita habiskan waktu bersama dalam panas terik mentari dan dinginnya guyuran hujan. Saat harus berlari dari ganasnya serdadu belanda.
Ku percepat langkah saat ku lihat pintu gubuk berantakan. Terdengar jeritan wanita yang menyayat. Seorang wanita yang sangat ku sayangi tergeletak dengan baju setengah terbuka. Terlihat goresan-goresan luka di tubuh anak-anakku yang terbujur dengan berselimut cairan merah. Hilang kesabaranku. Hatiku menjerit melihat orang-orang yang ku sayangi tergeletak untuk selamanya. Tanpa berpikir panjang ku tembakkan senapan tepat di kepala laki-laki berwajah belanda itu.
“Binataaang!! Bajing*n!!” teriakku berkali-kali. Tanganku bergetar. Ku peluk tubuh anak-anak dan istriku. Ku sematkan janji dalam hatiku. Aku tak akan berhenti berjuang. Meneriakkan kemerdekaan dari mereka manusia behati setan. Penjajahan dan kekejaman dengan janji tanpa pembuktiaan. Ku raih sapu tangan yang menyatu dengan darah istriku. Sapu tangan yang dijahitnya semalam. Sapu tangan tanda cinta akan tanah air. Dalam tiap jahitannya tersimpan harapan kemerdekaan, kebebasan dan kedamaian.” Ia tak melanjutkan lagi ceritanya. Hanya terdiam dalam terawang kenangan perjuangan. Matanya menatap jendela bus yang mulai buram.
“Lihat nak, mereka anak-anak jalanan itu” tangannya menunjuk ke jalanan trotoar. Anak-anak kecil berpakaian compang-camping membawa gitar kecil. Berkoor lagu punk rock jalanan. Menghampiri toko-toko kecil di pinggir jalan.
“Lihat di sana nak, di bawah jembatan itu” aku mengalihkan pandanganku mengikuti petunjuk jari pak Rahmat. Di bawah jembatan beton ini. Ku lihat seorang wanita mencuci beberapa potong baju di genangan air keruh. Di belakangnya terlihat rumah kardus reot dengan warna yang mulai luntur.
“Dan itu nak,” tunjuknya lagi. Di sebuah caffe di pojok jalan. Darah muda berseragam putih abu-abu asyik bercengkraman. Sesekali terdengar deruman mesin motor ninja yang digas kuat-kuat. Dan sebagian lainnya mengangkat kakinya di atas kursi dengan ditemani segelas kopi dan beberapa batang rokok yang mengepul membentuk lingkaran di udara.
“Kau mengerti tak nak? Seharusnya anak-anak jalanan tadi mendapatkan pendidikan yang layak dan wanita di bawah jembatan tadi harusnya mendapat tempat yang layak. Tapi siapa yang akan menjamin kelayakan itu. Pemimpin negeri sibuk berjanji. Sibuk berkompetisi. Generasi muda sibuk mempersenang diri. Bagi mereka yang berkesempatan mengenyam dunia pendidikan, sibuk dengan gaya pribadi. Sibuk mencari teknologi. Sibuk mencari pasangan hati. Sedikit dari mereka yang sibuk memahami kondisi negeri. Korupsi yang saat ini telah menjadi raja di bumi pertiwi. Yang diperankan oleh kaum-kaum berpendidikan tanpa iman. Tanpa memikirkan nasib rakyat yang lama menahan demo cacing-cacing perutnya. Tapi mereka yang memegang jabatan dan kekuasaan sibuk menggemukkan diri dengan uang rakyat yang terdholimi” lanjutnya. Diusapnya air mata dengan sapu tangan kenangan masa purbanya. Aku terdiam memikirkan apa yang diucapkan pak Rahmat.
“Bapak kan pernah berjuang untuk negeri ini. Kenapa Bapak tidak meminta tunjangan dari Negara?”
“Kenapa harus mengharapkan tunjangan nak.. Bapak berjuang bukan karena uang. Tapi keinginan untuk merdeka. Agar generasi muda tak lagi merasakan pedihnya hidup di bawah ketiak belanda. Bekerja dengan keterpaksaan. Penindasan tanpa kepedulian. Bukankah hidup ini perjuangan. Saat perjuanganku meneriakkan kemerdekaan menjadi sebuah kenyataan aku tak akan mengharapkan upah.
Meski banyak ribuan nyawa yang melayang. Itu semua adalah bagian dari sejarah panjang perjuangan. Kini saatnya Bapak berjuang melawan rasa lapar, berjuang melawan himpitan ekonomi, berjuang untuk tetap bertahan. Kabeh iku kudu dilakoni tansah roso ikhlas nduk. Biarkan mata yang tinggal sebelah ini yang akan menjadi saksi kisah perjuanganku di masa purba itu” Ada aliran rasa kagum yang menelusup.
Tak dapat ku pungkiri aku berkali-kali memujinya dalam hati. Keikhlasannya, kesabaran, dan kepeduliannya. Meski hanya dengan sebelah mata. Ia tetap berjuang.

merpati pelangi

Bagi Eugenie dan sahabatnya Jade, belajar adalah prioritas utama. Meskipun mereka hidup di tengah keluarga kurang mampu. Namun, itu semua bukanlah alasan bagi mereka untuk berhenti menuntut ilmu. Bagi mereka, hidup tanpa belajar bagai dunia tanpa disinari oleh matahari. Bagai merpati, dalam sangkar. Tak dapat bebas terbang mengepakkan sayapnya yang indah. Namun, karena keterbatasan ekonomi. Menuntut mereka untuk menghentikan langkah mereka untuk menggapai semua mimpi itu. Mereka tidak putus asa atas semua beban hidup yang mereka pikul. Masalah demi masalah, datang bertubi-tubi. Sehingga mereka pun harus memilih dua hal yang ada di hadapan mereka. Semua yang terjadi pada setiap manusia, sudah diatur oleh sang kuasa. Kita sebagai manusia, hanya bisa menjalankannya sesuai jalan yang diridho oleh Tuhan.
Di sebuah kamar, yang hanya diterangi oleh sebatang lilin. Terlihat Eugenie sedang sibuk membaca sebuah buku Fisika. Dia memang mahir dalam hitung-hitungan. Sehingga tak heran dia diikutsertakan sebagai anggota lomba Olimpiade Fisika antar Provinsi. Itu merupakan sebuah kebanggaan yang tak dapat dia ungkapkan. Ya, hanya dengan sebuah prestasi dia bisa membuktikan kepada keluarganya bahwa dia bisa membanggakan mereka. Itu pun dapat dia buktikan dengan memperoleh sebuah medali emas. Dia pun pernah bermimpi, suatu hari nanti dia bisa meneruskan kuliahnya ke luar negeri. Namun, apakah mimpi itu akan menjadi kenyataan? Ya. Tidak ada salahnya jika kita bermimpi, selagi kita masih mampu untuk mewujudkan mimpi itu menjadi nyata.
Di balik itu semua, tak terlepas dari dukungan seorang pria tampan, yang hobi main basket. Pria yang telah membuat hari-harinya menjadi lebih berwarna. Meskipun saat itu, tak sedikit yang suka padanya. Dia tahu hal itu, karena secara diam-diam mereka berbisik kepada sahabatnya Jade untuk berkenalan atau sekedar untuk menitip salam. Mereka kagum kepadanya, karena banyak yang mengatakan Eugenie friendly dan juga smart namun rendah hati.
Keesokan paginya, dengan tas buku di tangan Eugenie pergi ke ruang makan.
“Genie pergi, pak, bu!” Lalu ia cepat-cepat ke luar melalui pintu samping. Ibunya masih sempat berseru.
“Kalau udah pulang, langsung ke rumah! Jangan mampir dulu di jalan!”
Eugenie meletakkan tasnya di belakang sepeda, tergesa-gesa menyeret sepedanya ke halaman. Tapi ketika ia sampai di depan pagar rumah, Jade datang berkata.
“Pagi,” Sapa Jade. “Oh ya, pulang sekolah nanti kita mampir dulu yuk ke toko kue kemaren?” Ajak Jade, untuk sekedar mengisi waktu luang. Karena upahnya lumayan. Namun Eugenie tak menjawab, dia tampak berpikir keras alasan apa yang akan dia beri pada Ibunya, kalau dia harus bekerja dulu nanti.
“Lihat aja ntar tapi aku takut nanti aku dimarahi oleh Ibu,” Kata Eugenie berkeberatan. Dan dia pun melirik arloji di tangannya.
“Sudah hampir pukul tujuh! Kita bisa terlambat jad,” kata Eugenie sambil menaiki sepedanya, dan mereka pun mengayuh dengan cepat.
Ketika sampai di depan perkarangan sekolah, mereka berhenti seketika, ketika ada suara yang memanggil. Ternyata Gerald. Seketika mereka menoleh dan tersenyum padanya. Sekilas mereka melihat mobil Terano putih yang setia mengantar jemput Gerald ke istananya mulai pergi.
“Hey.” Sapa Gerald dengan senyumnya yang khas.
Mereka pun membalasnya dengan senyuman, kemudian Jade minta untuk duluan. Karena dia tahu diri, kalau kehadirannya akan mengganggu mereka.
“Udah lama nggak kelihatan. Lagi sibuk ya?” Tanya Gerald yang membuat Eugenie salah tingkah.
“Iya,” Jawab Eugenie gugup.
Matanya yang jernih memandang terus ke Gerald. Memang wajahnya menunjukkan ia seorang gadis yang polos dan membuat semua orang yang melihatnya menjadi simpati. Selain cantik, pintar, dia juga ramah dan tidak sombong.
Suatu hari dua sahabat ini dihadapkan oleh suatu masalah, yang membuat mereka harus memilih jalan yang terbaik. Keluarga Jade memiliki hutang yang besar dengan juragan Doyok, yang dikenal di kampungnya sebagai lintah darat. Ketika juragan Doyok mengetahui, bahwa Jade adalah anak dari keluarga yang telah berhutang padanya. Dia pun berniat untuk mempersuting Jade, sebagai imbalan hutang keluarga Jade padanya. Jade menolak keras, dengan permintaan orangtuanya untuk menjadikannya sebagai barang yang akan melunasi hutang keluarganya.
“Tidak! Tidak mungkin aku harus menikah dengan juragan Doyok,” Tegas Jade. “Kalian tahu kan, istrinyanya bukan cuma seorang.. tapi udah lima! Aku nggak mau jadi istri keenamnya! Lebih baik aku mati!”
“Kamu ngomong apa sih Jade. Untuk situasi seperti ini, kamu harus ikhlas menerima keadaan,” kata Ayahnya yang juga tak mampu membendung air mata.
“Tapi yah masa depan Jade masih panjang! Jade masih ingin sekolah yah Jade mohon yah, jangan jual Jade yah,” pinta Jade sambil berlutut pada Ayahnya.
“Maaf kan Ayah nak. Ayah tidak bisa jadi Ayah yang terbaik untukmu,” katanya lalu berlalu.
Malam itu, Jade menangis semalaman. Merenungi nasib yang dia hadapi. Dia mulai berpikir, apakah orang miskin seperti dia tidak boleh bermimpi menjadi orang sukses?
“Ya Tuhan. Apa salah hamba? Hingga kau beban kan semua ini pada hamba hamba hanya ingin sekolah menuntut ilmu. Demi masa depan yang cerah. Demi keluarga hamba tolong hamba ya Tuhan.” desisnya dalam hati.
Pernikahan itu tak dapat dielakkan lagi. Dengan hati ridha, Jade menerimanya dengan hati lapang. Karena hanya dialah yang bisa membantu kelurganya, setidaknya dia telah berbakti pada orangtuanya. Meskipun, semua cita-cita dan impiannya harus dia kubur sedalam-dalamnya. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Ibunya, bahwa orang miskin sepertinya tidak boleh bermimpi.
“Sahabatku. Maaf aku tidak bisa membantumu,” kata Eugenie dengan nada menyesal. Kemudian mereka saling berpelukan. Mungkin. Ini adalah pertemuan terakhir mereka.
“Oh… Ganie,” dia pun menangis tersedu-sedu di pelukan Euganie. “Impianku pupus sudah ganie aku berharap kamu mewujudkan mimpi kita Ganie! Aku harap kamu terus meraih prestasi meski tanpa aku,” dia pun melepaskan pelukannya, dan berusaha untuk kelihatan kuat.
“Aku janji Jad, aku akan mewujudkan mimpi kita aku janji!” Itulah janji Eugenie untuk sahabatnya. Baginya Jade adalah gadis yang tegar, meskipun dia harus memilih untuk mengubur semua impiannya. Jade yang malang.
Sebulan telah berlalu, hasil UN mengatakan kalau Ganie lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Dia mendapat rangking pertama se-Nasional. Dia sangat bangga dengan prestasi yang dia peroleh. Apalagi setelah dia mendapat Beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke USA.
Akhirnya mimpi yang selama ini menghiasi tidurnya, menjadi kenyataan. Hasil jerih payahnya terbayar sudah. Meskipun dia harus menjual kehormatannya, demi melanjutkan pendidikan dan untuk membeli obat Ibunya yang kini sakit-sakitan. Semua ini karena niat licik dari pamannya, yang dari dulu memang sudah berniat untuk menjual dirinya. Namun, dia mulai mengerti arti sebuah kehidupan, tanpa usaha maka semua tak akan menjadi nyata. Meskipun dia harus memilih jalan yang salah.
TAMAT
Cerpen Karangan: Renny Afiza
Facebook: Ren Twin Nda
Renny Afiza. Siswi SMAN 1 KUBUNG, Kab. Solok. Cerita ini ku persembahkan untuk orang-orang yang hidupnya selalu dipandang sebelah mata, untuk tetap tabah menjalani hidup. Karena semua cobaan yang diberikan oleh yang maha kuasa, tidak terlepas dari kemampuan makhluknya. Dan tetap berusaha di jalan yang diridhoi oleh Tuhan.

smash ku untuk ibu pertiwi

Peluit Pak Karta yang terdengar begitu keras membuat kami semua berlari begitu kencang mengelilingi lapangan bulu tangkis yang berjajar sebanyak sepuluh buah. Beliau adalah pelatihku di klub bulu tangkis Indomaju. Begitulah hari-hari yang aku lewati bersama teman-teman satu klubku untuk menjadi seorang pemain tim nasional bulu tangkis Indonesia. Di sebuah pusat pelatihan bulu tangkis itulah aku sedikit demi sedikit menata masa depan. Bermodalkan raket, sepatu, dan semangat yang bergelora itu aku tak mudah menyerah. Tak peduli orang mau bilang apa tentangku, tapi tekadku tak akan pernah hilang semudah itu. Sangat ingin suatu saat nanti tertulis nama Indonesia di punggung baju bulu tangkisku dan merah putih terjahit tepat di dada bagian kanan sebagai semangat juangku.
Tak ada seorang pun yang tidak berjuang dapat meraih apa yang dia inginkan. Kata-kata itulah yang selalu aku tanamkan selama ini di dalam hatiku untuk dapat meraih impianku. Selalu terucap saat aku sedang berlatih di GOR Indomaju yang menjadi markas klub Indomaju. Napas terengah-engah usai latihan selalu aku rasakan, namun tak sebanding dengan apa yang akan aku dapatkan nanti. Biarlah aku sengsara terlebih dahulu agar hidup yang aku lalui berakhir bahagia. Jam bulat putih besar yang menempel di dinding GOR sudah menunjukkan pukul 10.00 malam, saatnya untukku kembali ke rumah dan melepas segala lelah yang aku rasakan. Aku langsung naik ke lantai dua dan masuk ke kamar yang dipenuhi oleh poster Taufik Hidayat di dinding. Ku taruh tas raket merah bertuliskan Yonex di pojok kamar dan aku langsung turun ke lantai satu untuk mandi air hangat yang sudah disiapkan oleh Ibuku.
Setiap kali aku berada di dalam kamar mandi, aku selalu termenung membayangkan diriku menjadi juara dunia bulu tangkis. Terkadang Ibuku mengetuk pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam karena aku terlalu lama termenung. Setelah kelelahan yang aku rasakan usai berlatih hilang, aku kembali ke kamar. Hari yang semakin malam mulai terasa, ku setting jam wekerku tepat pukul 04.00 pagi agar aku bisa berlatih dengan udara pagi yang masih segar. Di kesunyian malam, aku terbangun dan menyalakan lampu kamarku. Aku melihat jarum jam weker yang masih menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Aku mendengar Ibu dan Ayah berbincang di ruang tengah, ruangan yang tepat berada di depan kamarku. Aku pun mematikan lagi lampu kamarku dan tenang mendengarkan perbincangan Ayah dan Ibu di gelapnya malam.
“Ayah tahu kan, kalau keadaan ekonomi keluarga kita tiga bulan terakhir ini sedang mengalami penurunan. Ini semua karena Ayah menginginkan Wisnu menjadi juara dunia bulu tangkis. Biaya hidup yang kita miliki sebagian besar digunakan untuk membiayai latihan dan peralatan bulu tangkis. Semua itu sia-sia di negara kita ini. Jika dia telah meraih juara dunia lalu pensiun dari dunia bulu tangkis, paling-paling dia nanti hanya menjadi tukang becak. Negara kita tidak mau menghargai pejuang yang telah mengharumkan nama bangsa ini,” Ibu mengawali pembicaraan.
“Masa depan seorang anak tidak ada yang bisa mengetahuinya. Bahkan oleh Ibunya sendiri yang melahirkannya. Masa depan seseorang hanya diketahui oleh Allah Swt. Yang sudah dilakukan biarlah berlanjut, memang apa salahnya anak kita berusaha untuk mencapai impiannya? Sudah cukup perbincangan malam ini, tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Mari kita tidur, ini sudah larut,” Ayah menjawab dengan suara yang lembut dan segera masuk ke kamar.
Mendengarkan pembicaraan orangtuaku itu, hatiku merasa berat untuk melanjutkan karir bulu tangkis yang aku jalani selama ini. Ku minum air mineral yang berada tepat di atas bantalku untuk menenangkan pikiran. Jam weker berdering dengan begitu keras, tanpa ku sadari aku tidak mengistirahatkan tubuhku ini semalam suntuk. Aku bangkit dari tempat tidur, namun aku urungkan niatku untuk berlatih. Aku segera ke kamar mandi dan berwudu untuk melaksanakan salat subuh. Di ujung doaku, aku memohon agar diberikan petunjuk dan kemudahan oleh Allah Swt.
“Ya Allah, apakah yang aku lakukan selama ini hanyalah sia-sia? Haruskah aku menjatuhkan impianku begitu saja? Mohon berilah hamba-Mu ini petunjuk dan kemudahan,” dengan air mata mengalir di pipi aku berdoa.
Fajar mulai menjelang, saatnya untukku bersiap dan berangkat ke sekolah yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari rumah. Tepat pukul 07.00 pagi jam pelajaran dimulai, awalnya aku sangat antusias mengikuti pelajaran matematika yang disampaikan oleh Pak Tata, namun akhirnya aku pun tertidur karena lelah. Pak Tata memergoki aku sedang tidur dengan enaknya di kelas dan melemparkan sebuah penghapus papan tulis tepat mengenai kepalaku. Amarah Pak Tata pun tak mampu dibendung.
“Wisnu! Siapa yang menyuruhmu tidur saat pelajaranku berlangsung?! Sekarang kamu keluar dan hormat kepada bendera sampai jam pelajaranku selesai,” Pak Tata marah besar padaku.
Aku beranjak ke luar dari kelas dan menuju ke lapangan untuk melaksanakan hukuman yang aku terima. Dengan menghadap sang merah putih aku memutuskan untuk berhenti bermain bulu tangkis dan konsentrasi pada prestasi akademisku. Itulah yang aku putuskan setelah dimarahi oleh Pak Tata. Siang mulai menampakkan diri, jam menunjukkan pukul 02.00 siang dan seluruh jam pelajaran telah usai. Kini saatnya untuk pulang dan aku ingin membicarakan apa yang aku pikirkan kepada Ayah dan Ibu.
Sesampainya di rumah, aku meminta Ayah dan Ibu duduk di kursi rotan tua yang ada di ruang tengah.
“Aku ingin menjelaskan sesuatu kepada Ayah dan Ibu. Setelah aku menimbang dan akhirnya aku mendapat satu keputusan bahwa aku ingin berhenti bermain bulu tangkis. Aku tidak mau memberitahukan alasannya. Tetapi, hari ini adalah hari terakhirku untuk berlatih bulu tangkis,” dengan berat aku menyampaikan kalimat itu.
“Apa kamu yakin mengucapkan kalimat tersebut? Jika kamu telah memutuskan, Ayah tidak mampu menghalangimu. Namun Ayah hanya akan mengingatkan, jangan sampai kamu menyesal dengan keputusan yang telah kamu buat ini,” Ayah merelakanku untuk berhenti bermain bulu tangkis.
Setelah perbincangan yang memilukan itu, aku pamit dan berangkat latihan bulu tangkis untuk yang terakhir kalinya. Di GOR Indomaju, kami semua diminta Pak Karta melakukan pertandingan, namun hanya latihan. Jarang sekali Pak Karta mau melakukan pertandingan latihan, tetapi berbeda dengan hari ini. Dengan bersusah payah, aku berhasil memenangkan latihan tersebut dengan mengalahkan temanku yang sangat kuat, yaitu Bintang. Setelah semua pertandingan usai, seseorang datang dengan memakai jaket bertuliskan Indonesia pada bagian punggungnya. Kami semua tidak mengenal beliau. Beliau memanggilku dan menawarkan hal yang sangat menarik.
“Saya datang kemari tidak sia-sia, karena saya berhasil menemukan seseorang untuk bergabung ke pelatnas dan juga mendapat beasiswa bulu tangkis. Apakah kamu tertarik dengan tawaran saya? Ingat Korea Open 2013 sebentar lagi dan negara ini membutuhkan kamu, maka siapkan dirimu,” kata beliau yang ternyata adalah pencari bakat dari pelatnas.
“Tentu saja saya menerima tawaran tersebut, Pak,” dengan rasa gembira yang meledak aku menjawab.
Baru kali ini selesai berlatih aku tidak merasa letih, mungkin karena kabar yang sangat menggembirakan itu datang menghampiri. Saatnya untuk pulang dan memberitahu orangtuaku dengan kabar yang baru saja aku terima. Aku meminta Ayah dan Ibu duduk di kursi rotan tua untuk yang kedua kalinya.
“Sepertinya aku mengurungkan niatku untuk berhenti di dunia bulu tangkis karena aku dipanggil masuk ke pelatnas dan aku juga mendapatkan beasiswa bulu tangkis. Jadi, ekonomi keluarga kita tidak akan terasa terbebani. Apakah Ayah dan Ibu memperbolehkan aku bergabung dengan pelatnas dan berangkat ke Jakarta minggu depan?” dengan nada gembira aku memohon restu kepada Ayah dan Ibu.
“Tentu saja Ayah memperbolehkan kamu bergabung, itu adalah satu langkah lebih dekat untuk menggapai impian yang kamu inginkan. Kamu harus bersyukur karena Allah Swt telah memberikan kemudahan,” dengan senyum tersirat Ayah menjawab.
“Ibu hanya ingin kamu mendapat yang terbaik, jika ini yang terbaik untuk kamu, maka Ibu setuju,” dengan terharu Ibu menyetujui.
Rasanya aku ingin menangis melihat keharuan Ibu. Dengan spontan aku memeluknya dan Ibu pun menangis. Aku tak mampu melihat Ibuku menangis, air mataku pun ikut membasahi pipi.
Satu minggu kemudian, aku berangkat ke Jakarta tanpa seorang pun yang mendampingi. Berangkat dengan tekad bulat yang ada dalam diriku. Saat aku di Jakarta, terkadang aku rindu dengan Ayah dan Ibu. Tapi aku yakin doa mereka pasti mengiringi perjuanganku. Enam bulan berlatih tanpa pulang ke kampung halaman, kini saatnya aku membuktikan bahwa diriku yang terbaik. Korea Open 2013 digelar di Jeonju, Korea Selatan. Aku menelepon orangtuaku bahwa aku kini sedang berada di Korea Selatan. Aku ingin membuktikan bahwa Indonesia bisa dan tak sekadar omong belaka. Kini Indonesia telah tertulis di punggung bajuku dan merah putih pun ikut terjahit rapi. Perjuanganku kali ini harus lebih keras dari sebelumnya. Perjuangan yang dahulu aku anggap tiada artinya. Inilah perjuangan yang sesungguhnya.
Gemuruh dukungan penonton terdengar begitu keras membuatku merinding. TrIbun penonton dipenuhi supporter dari berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Sekarang aku di sini, disaksikan oleh ribuan penonton yang hadir. Pertandingan demi pertandingan berhasil ku menangkan, China, Malaysia, dan Jepang berhasil aku tumbangkan. Aku pun berhasil masuk final dan akan berhadapan dengan lawan tangguh dari tuan rumah, yaitu Kim Jong Geun. Hari penentuan siapa yang terbaik tiba, aku langkahkan kaki memasuki lapangan dengan diiringi tepuk tangan para penonton. Dukungan penonton lebih terdengar dari hari-hari sebelumnya. Ini adalah final, semua mata tertuju padaku dan aku harus memberikan yang terbaik. Indonesia menunggu kepulanganku, menunggu kepulangan sang juara.
Aku menatap Kim Jong Geun dengan tajam, di dalam hati aku ingin menghancurkannya. Memang terdengar agak kasar, tetapi itulah yang harus aku lakukan untuk negaraku. Set pertama diawali dengan forehand service oleh Kim Jong Geun. Aku balas dengan smash keras di sisi kanan lapangan Kim Jong Geun dan satu angka untukku. Pertandingan berjalan sangat menegangkan. Alunan drum dari pendukung Indonesia membuatku semangat dan tak mau menyerah. Aku tak mau mengecewakan bangsaku. Dropshot dibalas dengan lob dan lob dibalas dengan smash, begitu seterusnya sepanjang pertandingan berlangsung.
Aku dan Kim Jong Geun terlihat berimbang, kejar mengejar skor, itulah yang terjadi. Sampai harus dilakukan rubber game. Stamina benar-benar terkuras, aku berharap dukungan penonton tak akan surut. Lagi-lagi ketegangan terjadi di rubber game ini. Skor di set ketiga ini adalah 19-19. Backhand service oleh Kim Jong Geun aku balas dengan mengangkat shuttlecock ke belakang. Kim Jong Geun melompat dan melakukan smash keras. Beruntunglah aku, smash tersebut hanya mengenai net dan satu angka bertambah untukku. Skor saat ini 20-19, aku satu angka lebih unggul.
Inilah detik-detik penentuan, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Aku lakukan backhand service berharap Kim Jong Geun mengangkat shuttlecok ke belakang. Dan dugaanku benar, aku langsung melompat dan melakukan smash keras dengan tenaga yang tersisa. Shuttlecock melesat dengan begitu cepat ke sisi kiri lapangan Kim Jong Geun. Kim Jong Geun berhasil aku tumbangkan dengan skor 21-18, 19-21, dan 21-19. Hanya tepuk tangan dan teriakan dari penonton yang bisa aku dengar. Merah putih berkibar diiringi dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Aku telah mengharumkan nama bangsa dan sekaligus membuktikan bahwa Indonesia bisa. Ku genggam merah putih yang ada di dadaku dan air mata bahagia ke luar tanpa aku sadari. Inilah aku, Wisnu, sang juara dunia yang baru saja lahir.
“Wisnu! Wisnu! Wisnu!” penonton dengan keras menyebut-nyebut namaku.
Inilah kadoku untuk Ibu Pertiwi, smashku untuk Ibu Pertiwi, yang dibalut oleh rasa bangga dan perjuangan yang tiada henti-hentinya.

pilih yang mana

“Hari ini gue baper banget sih!! Cuma gara-gara kuliah sama organisasi doang! karena gue bingung harus gimana, kuliah sama organisasi itu bentrok, jadinya kalau kuliah yang ditinggalin, nanti organisasi siapa yang ngurusin kelompok gue, kan gue udah diamanahin buat ngebimbing kelompok gue. Gue cuma gak enak sama kakak-kakaknya, apalagi semua instruktur semester 5 itu mau praktek Ujian Tengah semester..”
“Kenapa sih mereka mentingin diri mereka aja.. Kan kasihan anggota kelompok masing-masing. Emang, gue tahu organisasi, tapi gak harus gitu juga, kalau boleh milih, pasti kakak-kakaknya juga milih akademik, kalau pilih organisasi, nanti kuliah gimana…” ujar Tita sembari mengusap air matanya. Tita adalah salah satu mahasiswi yang rajin dan smart di kampusnya, ia bisa melakukan apapun yang disuruh kerjakan oleh dosennya.
Keesokan harinya di ruangan dosen..
“Assalamualaikum, selamat siang bu…”
“Waalaikumsalam siang juga Tita, ada apa?” Tanya dosennya Tita.
“begini bu, saya mau izin untuk tidak mengikuti prakter ujian tengah semester, kalau saya dizinkan saya mau izin, bu.”
“memangnya kamu ada urusan apa sampai-sampai mau izin begitu?” tanya dosen Tita dengan nada agak keras.
“begini bu, saya ada acara organisasi yang sama tidak bisa saya tinggalkan seperti praktek ujian tengah semester ini, karena mungkin Ibu mengizinkan saya untuk mengikuti acara organisasi HIMA di kampus makanya saya meminta izin kepada Ibu agar paktek ujian saya dapat ditunda dahulu, karena menurut saya acara HIMA ini hanya sekali ini, bu.” Ujar Tita memberanikan diri berbicara walaupun ia agak sedikit takut.
Di saat dosennya berkata tidak boleh, gak bisa ditahan lagi air mata Tita pun mengalir di pipinya. Tita meneteskan air matanya karena ia bingung apa yang harus ia lakukan karena perjuangan sekali ia masuk HIMA dari awal sampai sekarang. “tidak bisa Tita, kamu itu harus mementingkan akademik dari pada organisasi walaupun kamu jadi ketua di sana, nanti nilai kamu tidak akan saya bantu kalau kamu tidak dapat mengerjakan yang sebenar-benarnya!” Lalu hari kedua juga tampil menari jaipong antar Kampus, kalau gak ada Tita, nanti tariannya jadi kacau. Tita duduk di taman kampusnya sendirian sembari minum air.
“Ya Allah.. berikanlah jalan keluarnya…” ujar Tita sedih.
“Baper!!”
“Bikin smuanya kacau emang!” Tita terdiam sejenak, lalu ia ingat kejadian di kelas sebelum ia pulang dari kampus.
“Kok gue tadi marah-marah sama temen kelas gue sendiri sih, Nina, Ara, maafin gue.”
Lalu sebelum ia ke luar pintu gerbang kampus, tiba-tiba Melati temen narinya Tita bilang, kalau dia sudah ada penggantinya Tita .
“Tita!!” terdegar suara yang sudah tidak asing lagi oleh Tita, Tita menoleh ke belakang.
“eh Melati, ada apa?”
“gue mau ngomong sama lo Ta.”
“mau ngomong apa mel?”
“begini Ta, sebenernya gue gak tega ngomong ini sama lo, tapi ini harus gue bilang sama lo Ta.”
“iya gak apa-apa Mel, bilang aja, lo mau ngomong apaan emang?
“sebenernya gue udah cari pengganti buat lo Ta, gue sebenarnya gak mau lakuin ini, tapi gue gak tega sama lo karena lo kan besok mau ujian praktek, makanya gue cari orang lain buat gantiin lo nari besok, karena gue gak mau lihat lo jadi beban pikiran Ta..” Tita hanya bisa diam, ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
“Ta, gue tahu lo pasti kecewa banget sama gue, karena gak bilang dulu sama lo buat cariin pengganti lo, karena rencana ini kita tahu dari temen kelas lo Ta, mereka cerita, katanya lo bingung mau Ujian, nari apa Organisasi? Makanya gue dan temen-temen kelompok nari kita omongin bareng-bareng demi kebaikan lo juga Ta.”
“udahlah, kalau begitu gak apa-apa kok, gue ikhlas. Terima kasih yah, karena kalian udah perhatiin gue, gue mau pulang dulu yah, kalian yang semangat besok tampilnya, semoga sukses acaranya.” akhirnya Tita ninggalin temennya Melati.
“BAPERRRRRRR.. BAPERR dan BAPERRRR lagii!! gimana sih caranya ngilangin baper yang gak bermanfaat ini!!??” Teriak Tita sendirian di kamarnya.
Malam harinya Tita tidak bisa tidur karena ia harus memikirkan bagaimana caranya ia harus bisa ikut acara organisasi dan tampil menari di acara organisasi itu, karena menari adalah salah satu hobinya Tita. Sudah pukul 03:45 pagi Tita juga tidak bisa tertidur. Ia bingung kalau ia gak jadi ikut organisasi itu. Ia tidak lagi menghiraukan menari, karena temen-temennya sudah dapatkan penggantinya walaupun Tita yang paling terbaik di kelompoknya. Tita hanya bingung memikirkan acara organisasinya karena ia diamanahkan untuk jadi penanggung jawab atas acara itu.
Kriinngg!! Tiba-tiba Ponselnya Tita berbunyi di atas meja belajarnya. Tita tidak menghiraukan ponselnya, karena ia sangat khawatir, karena sudah H-1. Kriiinngg!! ponsel Tita bunyi berkali-kali. Akhirnya Tita mengangkat telepon itu, ternyata itu telepon dari temen kelasnya, yaitu Ara, dan Tita juga mendapatkan sms dari temennya Nina.
“Assalamualaikum Tita selamat pagi sudah salat subuh belum lo?”
“ngapain lo nelepon gue subuh-subuh begini? Kesambet apa lo?” Kata Tita jengkel.
“ssssttt!! Tenang nona cantiik, jangan marah-marah dulu dong, dengerin dulu.”
“iyaa.. iyaa gue dengerin kenapaa?”
“begini Tita…”
“begini apa?? Buruan gue cape dan ngantuk, gue belum tidur semalaman.”
“hah? lo belum tidur Ta?” teriak Ara kaget.
“iya Ra, gue bingung, gue masih mikirin ujian praktek sama Organisasi.”
“oh begituu.”
“lah, lo kok biasa aja sih, lo gak perhatian banget sama gue, katanya temen.” ujar Tita sedih.
“Titaa.. gue nelepon lo subuh-subuh begini ada yang pengen gue omongin sama lo..”
“terus?” Tita penasaran.
Tiba-tiba ponsel Tita berbunyi tanda ada pesan masuk. Tinggg!!
“sebentar Ra gue mau lihat pesan masuk dulu.”
“oke!”
Ternyata pesan masuk itu dari temennya Tita yaitu Nina. Isi pesannya, “Ta, Selamat yah, lo bisa menjalankan acara organisasi lo hari ini dengan lancar, soalnya dosen kita besok gak masuk! Karena beliau ada acara mendadak yaitu pergi ke kampung halamannya. Jadi kita besok kuliah seperti biasa dan lo bisa ikut tampil nari dan acara organisasi lo ta!” Tita tiba-tiba berteriak kegirangan.
“lo kenapa ta?” tiba-tiba terdengar dari ponselnya Tita, ia lupa kalau lagi teleponan sama temennya sendiri yaitu Ara.
“Araaa! Gue seneng banget,”
“lo seneng kenapa Ta?”
“gue tahu, lo nelepon gue pasti mau ngabarin hal ini ke gue kan, kalau dosen kita gak bisa masuk hari ini karena pulang kampung.”
“lo tahu dari mana Ta, ko lo tahu sih?” ujar Ara penasaran.
“tahu dong, kan gue barusan disms sama Nina.”
Tita sangat senang sekali mendengar kabar baik itu, ia langsung salat dan berdoa kepada yang memberinya jalan keluar yaitu Allah. Pagi-pagi sekali Tita berangkat ke kampus. Ternyata temen-temennya Tita sudah sampai duluan di kelas. Tita kaget, tiba-tiba….
“HAPPY BIRTHDAY Tita!!”
“lah, ko kalian ada di sini?” tanya Tita heran.
Salah satu mahasiswa di kelas menjawab, “ya iyalah Tita. Kan ini hari spesial buat lo, sebenernya hari ini emang gak ada dosen, kita kan ujian prakteknya minggu depan.”
“hah?” Tita semakin bingung dengan semuanya.
“iya Tita, emang lo gak ingat apa, kan minggu kemaren dosen kita udah bilang kalau sekarang kita gak jadi praktek, apa lo udah lupa? Dasar pelupa!” Papar salah satu temen kelasnya.
“tapi kan kemaren gue barusan ketemu sama dosennya, dan dosennya gak bolehin gue buat organisasi dan ngotot kalau gue harus ikut ujian praktek..”
“Hahahaha…” temen-temen Tita tertawa terbahak-bahak.
“Tita sebenarnya dosen juga sudah tahu kalau hari ini lo ulang tahun makanya kita diskusi aja sama dosennya buat ngerjain lo.. hahahaha”
“kalian yah benar-benar bikin gue tidak bisa tidur!!!”
Tiba-tiba temen Tita, Melati datang.
“Selamat Ulang Tahun Tita!!”
“Melati? Kok lo di sini? Bukannya beres-beres buat nari nanti sore ya?”
“Titaa, temenku yang cantiik.. sebenernya lo ikut kita nari yah hari ini.”
“lah kenapa? Bukannya ada pengganti gue yah?”
“hahahaha Titaaa..Titaaa.. lo polos banget sih jadi orang, itu cuma akal-akalan kita aja, gue dan temen-temen nari kita udah tahu dan sepakat buat ngerjain lo karena lo ulang tahun hari ini…”
“yaampun, kalian semua bener-bener bikin jantungan tau ga?”
“hahaha Selamat Ulang tahun yah Titaaaa, maaf yah, kita udah ngerjain lo, jangan marah sama kita juga dong, sama dosen kesayangan lo marah juga lah, hahahaha.”
“Hahaha.” suasana di kelas itu sangat bahagia termasuk Tita sendiri.
“Temen-temen, maafin gue yah kalau ada kata-kata gue yang nyakitin hati kalian, karena gue gak tahu, dan gue lupa kalau kita hari ini gak jadi praktek, makanya gue kepikiran terus, jadinya gue baper, hehehehe, maafin ya temen-temen…”
“iyah Tita.. kita maafin kok.”
“Ara, Nina, maafin gue yah, karena gue udah marah-marah sama kalian berdua.”
“iya Tita, kita maafin kok, kita ngerti kok Ta gimana pusingnya lo saat itu, hahaha.”
Suasana kelas semakin ramai.
“ya udah temen-temen terima kasih buat semuanya, gue mau turun ke Aula mahasiswa dulu buat ngurusin Organisasi kelompok gue.” Ujar Tita dengan penuh semangat.
“oh iya Tita, nanti sore lo jangan lupa yah kita mau tampil nari buat acara organisasi lo..”
“okeeee..”

catatan hati seorang ayah

Aku rasa hal semacam ini sering ku alami. Krisis yang menjadikan kehidupanku semakin mengikis jiwa, dan usiaku terus bertambah setiap harinya. Angan dan harapan seakan melayang tak tahu kapan terwujud. Anak-anak kian hari makin bertambah besar, semakin pula kebutuhan ekonomi melonjak, sedangkan krisis tak pernah berakhir. Pada siapa perasaan ini ku tumpahkan, orangtua telah tiada. Hanya saudara dan teman yang jadi tempat berkeluh kesah. Tapi, Aku tidak boleh putus asa, apapun resiko, di mana pun aku harus mencari, aku harus bisa menghadapi berbagai macam kendala.
Di perantauan aku mengalami kendala yang sangat menyakitkan. Terkadang aku merasa putus asa apakah aku sanggup menghadapi masalah demi masalah. Sadangkan saat ini aku masih sangsi, dengan penyakit yang aku derita. Kemarin aku merasakan sakit perut yang belum pernah aku alami sebelumnya. Tetapi sudah berbagai obat tidak sembuh juga. Akhirnya aku bicara langsung pada bos, untungnya langsung dibelikan obat yang mahal. Setelah diminum, beberapa jam langsung tidak terasa. Alhamdulillah…
Walaupun begitu, Minggu yang ketiga ada saja masalahnya, yang namanya sakit kepala menyerang tiap hari. Tiap hari itu pun aku minum obat sakit kepala yang murah di pasaran, tetapi tidak sembuh juga. Sudah itu, kepalaku pernah terbentur kayu sampai keluar darah. Sakitnya bukan main, dan lama sekali sembuhnya. Untuk itu, banyak sekali uang yang aku keluarkan untuk membeli obat, habis sudah. Tetapi yang terpenting aku bisa bertahan hidup. Beginilah resiko jadi kepala rombongan buruh. Apalagi tenagaku dibutuhkan oleh mereka. Aku harus mampu menghadapi godaan apapun. Tapi Andai aku bisa merubah segala hidupku ini. Mungkin penderitaan tak akan ku lalui berkepanjangan. Namun kapan aku bahagia?
Sakit…
Aku tak peduli dengan kesehatanku sekarang ini. Yang penting aku harus bekerja, bekerja, dan bekerja. Tetapi kondisiku semakin drop, aku memutuskan pulang ke kampung. Mau tak mau aku harus istirahat. Menurut dokter, aku terkena paru-paru basah. Bagaimana ini, anak-anakku masih kecil-kecil dan perlu perhatian dari orangtua. Semakin hari aku semakin takut. Di tengah malam aku terkadang menangis tanpa sebab. Apakah penyakitku bisa sembuh? batuk dan sesak sangat mengganggu tidurku. Aku hanya bisa pasrah pada Tuhan. Aku semakin sedih saat istriku menangis setiap aku kesakitan. Tenanglah, menangis bukan cara menyelesaikan masalah. Berdoa adalah hal yang terpenting untuk sekarang.
Aku sebagai kepala keluarga, tulang punggung keluarga, aku harus kuat. Keluarga itu nomor satu. Aku harus bangkit dari keterpurukan. Setiap hari aku menuruti apa yang dokter bilang. Bersama istriku yang ikut berjuang, hari demi hari aku semakin pulih. Dan walaupun kadang masih terasa sakitnya, aku harus tetap kuat dan berusaha agar sembuh total. Dan kesembuhanku hari itu adalah dimana awal untuk berjuang lagi. Bekerja dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Ini sudah jadi nasibku. Semoga saja umur dan rezeki tak pernah terhambat karena penderitaan. Oh Tuhan semesta alam… Berikanlah jalan terang agar kami bisa meniti jalan setapak yang penuh semak berduri dalam mencari jati diri. Siapa diriku yang sebenarnya. Bisakah aku merubah hidupku. Bisakah aku terhindar dari penderitaan yang panjang. Bisakah aku membahagiakan anak dan istriku dan selamat dunia akhirat. Semoga itu akan tersampaikan lewat kata-kata yang aku tuliskan.

sebuah harapan

Gelap. Sangat gelap. Yang ku lihat hanya kegelapan. Ini di mana? Mengapa aku bisa berada di sini?
“Aulyn!” ku dengar ada yang memanggil namaku. Siapa itu?
“Aulyn!” suara yang memanggilku semakin dekat.
Ku lihat ada seberkas cahaya yang memancar dari ujung ruangan ini. Tapi aku tidak yakin ini sebuah ruangan. Lalu, ku dengar suara langkah kaki kian mendekat. Makin dekat… dan aku bisa mendengar napas seseorang. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena sangat gelap. Tapi aku bisa melihat matanya. Mata yang selalu ku rindukan. Mata kakakku… Tiba-tiba ada sesuatu yang lembut menyentuh pipiku, samar-samar ku dengar suara.. kucing?
Ternyata itu cuma mimpi. Akhir-akhir ini aku selalu bermimpi tentang kakakku, entah apa artinya. Dan kucing ini selalu membangunkanku sesaat sebelum aku melihat wajah kakakku. Mungkin aku terlalu merindukan kakakku sampai terbawa ke dalam mimpi? Ya mungkin.. dan hari ini tepat 2 tahun saat kakak meninggalkanku pergi untuk menjadi pasukan perang. Aku masih ingat kata-kata terakhir yang dia ucapkan padaku.
“Jadilah gadis yang kuat! Dan tunggu aku kembali..” Saat itu aku menangis karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku hidup tanpa kakakku, aku tidak mempunyai siapa-siapa selain dia. Dan kata-kata itu yang menguatkanku hidup tanpanya selama 6 tahun ini. Hatiku merasa dia tidak akan kembali tapi aku percaya dia akan kembali.
Aku bangun dari tempat tidur dengan malas. Entah apa yang akan ku lakukan hari ini. Kehidupanku setiap hari sama saja, tidak ada yang istimewa. Saat aku akan membuat sarapan terdengar suara ketukan pintu. Siapa yang pagi-pagi begini sudah bertamu? Mengganggu saja, pikirku. Akhirnya dengan terpaksa aku menyeret kakiku untuk membukakan pintu. “Ya?” di balik pintu itu ternyata kakek Bertand yang setiap tahun selalu membagikan kertas berisi siapa saja yang akan berangkat ke pusat untuk menjadi pasukan perang dan siapa saja yang akan kembali setelah menjalankan tugas dari negara ini.
“Aku ingin memberikan kertas ini.” kakek Bertand memberikan selembar kertas lalu langsung pergi. Ya, dia memang selalu begitu.
Setelah menutup pintu dan membuat sarapan, ku baca kertas yang tadi diberikan kakek Bertand dan berharap di daftar nama Pasukan Yang Kembali tertulis nama kakakku. Mataku langsung menuju ke huruf R. Aku mulai membaca nama yang berhuruf depan R. Raphael.. Raymond.. Richard.. Royer. Tidak ada nama Roland. Aku sudah menyangka dia tidak akan kembali tahun ini. Ku lempar kertas itu ke tempat sampah dan mulai memakan sarapanku.
Setelah selesai sarapan, aku memberikan semangkuk susu untuk kucing itu dan langsung pergi ke luar. Aku pergi ke tempat aku biasa bekerja sebagai penjaga toko roti. Saat aku sampai aku melihat papan bertuliskan TUTUP. Hari ini libur? Aku tidak diberi tahu kalau hari ini libur. Aku masuk lewat pintu belakang dan mencari Richard si pemilik toko roti. Aku menemukan Richard sedang sibuk membuat roti.
“Richard?” aku memanggilnya.
“Oh tunggu sebentar, aku sedang sibuk. Amat sangat sibuk.” dia menjawab tanpa menoleh.
Aku duduk dan menunggu dia sampai selesai memberikan krim di atas sebuah roti yang baru matang. Richard menoleh dan menghampiriku.
“Kau mau membantuku?” ucap Richard.
“Oh tidak. Aku bingung, kenapa toko ini tutup sedangkan kau tetap membuat roti?”
“Kau belum mendengar beritanya? Anakku pulang nanti malam dan aku ingin membuat kejutan padanya!” ucap Richard dengan senang.
“Anakmu? Rose?” tanyaku bingung.
“Bukan Nak. Rose sedang menyiapkan makan siang. Lagi pula anak perempuan tidak boleh ikut pasukan perang. Anak laki-lakiku! Vincent!”
“Aku tidak tahu kau punya anak laki-laki..”
“Ya sudahlah. Kalau kau tidak mau membantuku sebaiknya kau pulang, aku sangat sibuk sekarang.”
Aku meninggalkan toko Richard dan mulai berjalan menuju pasar. Ketika akan berbelok ke sebuah gang aku mendengar ada yang memanggilku. Aku menengok ke belakang dan mendapati Marie -temanku, sedang berlari ke arahku.
“Aulyn!” ucap Marie sambil terengah-engah.
“Ada apa?” tanyaku.
“Aku memanggilmu dari tadi. Aku ingin memberitahukan informasi yang sangat penting.” kata Marie.
“Apa? Jangan buat aku penasaran.” kataku tidak sabar.
“Pertama, aku ingin bertanya. Apakah Kakakmu kembali nanti malam?” tanya Marie padaku.
“Tidak.” jawabku singkat.
“Jadi, aku dengar dari orang-orang kalau ada anggota keluarga kita yang ikut perang tapi tidak kembali selama bertahun-tahun, itu berarti dia sudah mati.” kata Marie sambil berbisik.
Aku terkejut. Jadi kakakku sudah meninggal? Aku tidak percaya itu, itu pasti hanya kabar angin. Belum pasti kebenarannya. Tetapi hatiku terasa janggal, sepertinya hatiku mempercayai ucapan Marie.
“Jadi.. Kakakku sudah mati?” kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirku.
“Tidak. Belum tentu, Aulyn.” kata Marie sambil merangkulku.
“Ya, aku akan mencari tahu kebenarannya.” kataku sambil pergi meninggalkan Marie.
Aku berjalan terus menuju rumah kakek Bertand, menerobos orang-orang yang berlalu-lalang. Aku tidak bisa memikirkan apa-apa lagi selain kakakku. Aku harus menanyakan kebenaran ini.
“Kakek Bertand!” ucapku sambil mengetuk pintunya.
“Ada apa?” kata kakek Bertand di depan pintu.
“Umm.. Apakah benar kalau orang yang dikirim ke pasukan perang tidak kembali selama beberapa tahun, itu artinya dia sudah.. mati?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya kakek Bertand.
“Aku khawatir pada Kakakku.”
“Kalau begitu masuklah, biar ku jelaskan di dalam.”
Kakek Bertand menjelaskan semua yang dia ketahui padaku. Kata kakek itu semua benar, tapi belum tentu kakakku sudah mati. Tidak ada yang tahu nasib orang yang menjadi pasukan perang, karena itulah kalau anggota keluarga mereka bisa pulang dengan selamat maka akan ada perayaan besar-besaran.
“Apa saja syarat agar bisa menjadi pasukan perang?” tanyaku pada kakek Bertand.
Kakek Bertand terlihat terkejut dengan pertanyaanku lalu dia pergi ke dalam dan kembali sambil membawa sebuah buku. “Ini syaratnya: Anak laki-laki, mahir menggunakan pedang dan harus mempunyai 1 benda atau makhluk ajaib..”
“Makhluk ajaib? Memangnya yang seperti itu nyata?”
“Bisa saja. Apakah kau benar-benar ingin menjadi pasukan perang?” tanya kakek Bertand padaku.
“Uh.. Kau sudah tahu. Ya, aku ingin pergi dan menemui Kakakku.” jawabku dengan tegas.
“Sudah ku duga, tapi itu sangat beresiko dan berbahaya. Aku akan membantumu tetapi bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan aku tidak bertanggung jawab.”
Setelah menjelaskan semuanya, kakek bilang akan mengajariku menggunakan pedang. Aku tidak tahu ternyata kakek Bertand mantan pasukan perang. Aku langsung pulang dan mempersiapkan diri untuk besok karena seleksi untuk pasukan perang akan diadakan 2 minggu lagi, waktuku sangat sedikit. Keesokan harinya aku pergi ke rumah kakek Bertand. Aku dilatih seharian penuh sampai tanganku banyak luka dan membiru. Tapi tidak apa-apa, ini semua demi bertemu kakak.
Dua minggu kemudian, tiba saatnya seleksi dan aku sudah sangat siap. Aku memotong rambutku agar terlihat seperti laki-laki dan berpakaian seperti laki-laki. Hanya 1 yang aku tidak punya, yaitu makhluk ajaib. Aku tidak punya benda atau makhluk yang seperti itu. Bagaimana ini? Aku harus menemukan makhluk ajaib dalam waktu 1 jam, bagaimana bisa menemukannya dalam waktu secepat itu?! Saat aku sedang frustasi begini, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan sangat keras sampai-sampai aku takut itu pintu akan lepas dari engselnya. “Tunggu!” teriakku sambil berjalan menuju pintu.
“Kakek Bertand? Ada apa?” dan itu ternyata kakek Bertand, wajahnya terlihat tidak sabaran.
“Kau sudah menemukan makhluk ajaib?”
“Belum.” jawabku.
“Kucingmu itu adalah makhluk ajaibnya.” ucap kakek Bertand.
“Kakek bercanda? Mana mungkin! Kalau kucing itu ajaib seharusnya aku sudah tahu dari dulu.”
“Kucing itu bisa bicara, coba saja ajak dia berbicara.”
Aku mengambil kucing itu dan menggendongnya. “Kau bisa bicara?” tanyaku pada kucing itu. Tapi dijawab oleh meow-an seekor kucing biasa.
“Kau bohong.” tuduhku pada kakek Bertand.
“Buat dia kesal.” ucap kakek Bertand.
“Hey! Ayo bicara atau aku tidak akan memberimu makan! Aku kan membuangmu ke tempat seekor anjing yang kelaparan!” ucapku lalu melempar kucing itu. Terdengar bunyi gedebug keras lalu suara makian. “Jangan kasar padaku! Kucing juga punya perasaan!” maki kucing itu padaku.
“Maaf. Dan aku harus segera berangkat ke seleksi pasukan perang. Terima kasih Kakek Bertand!” ucapku lalu membawa kucing itu dan berlari meninggalkan kakek Bertand.
Saat aku sampai di alun-alun kota, tempat seleksi pasukan perang akan berlangsung sudah banyak orang-orang yang datang. Mereka terlihat sangat kuat dan berani. Aku jadi merasa takut ditambah mereka membawa benda dan makhluk yang aneh sedangkan aku hanya membawa seekor kucing yang sedang terlelap di pangkuanku. Apa istimewanya selain kucing ini bisa berbicara? Apakah kucing ini bisa membantuku nanti? Semoga saja bisa, aku menjawab pertanyaanku sendiri.
Satu persatu orang-orang yang ada di alun-alun berkurang, ada yang lolos dan ada yang tidak. Aku jadi takut. Saat nomorku dipanggil, aku segera menuju ke dalam ruangan di pinggir alun-alun. Di sana, ada 3 orang yang aku simpulkan sebagai juri. Mereka melihatku agak lama dan menyuruhku mengambil sebuah pedang yang tersedia. “Pakai pedang itu untuk melawanku.” ucap seorang dari 3 juri itu.
Pertandingan dengan juri itu berlangsung lama dan alot, sampai akhirnya juri itu berhasil menawan leherku. Ku lihat wajah kedua juri lainnya sangat tidak bersahabat. Lalu juri yang tadi melawanku bertanya, aku membawa benda ajaib apa. Aku menunjukkan kucing itu dan ekspresi mereka makin berkerut seperti kakek Bertand. Saat ku buat kucing itu berbicara, ekspresi mereka tetap tidak berubah dan aku diberi sebuah kertas kecil berwarna merah. Perasaanku tidak enak saat melihat ekspresi mereka. Aku kembali ke alun-alun dan dengan perlahan ku buka kertas itu, ku baca tulisan yang ada di kertas itu “LOLOS.” Yeahhh!! berhasil! Senang sekali rasanya, aku melompat-lompat sejenak dan mengambil amplop untuk para peserta yang lolos.
Setelah itu aku kembali ke rumah dan segera memberitahukan hasilnya pada kakek Bertand. Ku beritahukan apa saja yang terjadi tadi, kakek Bertand hanya mengangguk-angguk saja lalu dia menyuruhku untuk mempersiapkan keperluan untuk besok karena besok aku akan berangkat ke pusat. Akhirnya aku pulang, mempersiapkan keperluan dan langsung tidur. Pagi-pagi sekali aku bangun dan berpamitan pada kakek Bertand.
Aku menaiki kapal untuk menuju ke pusat. Waktu luang di kapal aku pakai untu menghafal mantra sihir yang tadi pagi diberikan oleh kakek Bertand. Kakek bilang kalau pasukan perang akan menghadapi makhluk-makhluk aneh dan berbagai macam penyihir yang selalu mengincar negara kita. Aku baru tahu kalau yang menyerang itu penyihir, pantas saja setiap tahun selalu dibutuhkan pasukan perang.
Malam harinya kami baru sampai pusat dan langsung diberikan pelatihan fisik sampai tengah malam dan baru kami dibolehkan untuk tidur dan beristirahat. Badanku sakit semua karena aku tidak terbiasa dengan ini, sebelum tidur aku memikirkan kakak. Saat pelatihan tadi, aku tidak melihat kakak. Apakah kakak sudah berubah atau dia sedang berada di tempat lain? Pikiranku terus melayang sampai aku terlelap. Aku dibangunkan oleh suara lonceng yang sangat kencang sekali. Semua orang langsung cepat-cepat berganti pakaian dan menuju ruang makan. Kami semua makan dengan terburu-buru dan langsung menuju tempat pelatihan tadi malam.
Sekarang kami akan diberikan pelatihan sihir, satu persatu harus menyebutkan mantra sihir yang diketahui. Jika tidak tahu satu pun mantra sihir maka mereka harus lari mengelilingi tempat ini sampai 10 kali. Ternyata banyak yang tidak tahu, untung saja kakek Bertand memberikan mantra-mantra sihir, jadi mudah saja bagiku untuk menjawabnya. Seharian itu terus berlanjut latihan-latihan lainnya seperti bagaimana cara menggunakan senjata, menggunakan benda sihir, dan lain-lain.
Selesainya latihan hari ini juga tengah malam. Malam ini aku tidak memikirkan apa pun, aku lupa tentang kakak dan semuanya karena terlalu lelah. Lonceng berdentang lima kali, sudah waktunya bagi kami untuk bangun. Rasanya badanku ingin remuk dengan semua latihan ini. Bagaimana kakak bisa tahan menjalaninya? Oh iya! Aku belum bertemu kakak hingga sekarang.
“Keadaan darurat! Pasukan perang kurang, kita butuh pasukan tambahan SEGERA!” tiba-tiba terdengar pengumuman keadaan darurat dan alarm berbunyi. Aku segera menuju lapangan untuk berbaris. Kami semua dikirim untuk menjadi pasukan perang darurat. Aku naik ke helikopter yang tersedia bersama yang lainnya. Aku membawa sebuah pedang, kucingku, dan pistol ajaib. Ketika aku sampai di medan perang, ku lihat banyak yang terluka. Aku jadi takut, bisakah aku melawan makhluk-makhluk penyihir itu?
“Semua berbaris! Ikuti aba-abaku dan kalian akan maju!” teriak seorang pemimpin yang aku tak tahu namanya -bahkan wajahnya saja tertutup topinya. Setengah dari kami sudah membantu pasukan inti. Aku bisa melihat semua makhluk dan penyihir dengan mudahnya menghancurkan pasukan yang baru datang. Aku berada di paling depan barisan, dari samping aku bisa melihat dengan jelas wajah pemimpin itu. Sepertinya aku kenal, tapi siapa ya? “Semuanya maju! Serang!” teriak sang pemimpin. Aku terlonjak dari lamunanku dan langsung berlari mengikuti yang lain.
Aku banyak terluka, aku tidak tahu apakah aku masih mampu atau tidak. Tapi yang jelas aku harus menemukan kakak sekarang sebelum aku mati. Di mana kakak? Yang aku lihat hanya ceceran darah dan mayat manusia. Di mana kakak? “Ayo bangun!” teriak seseorang di belakangku. Aku menoleh dan melihat si pemimpin menatapku. Aku balik menatapi dia, menatap wajahnya yang berlumuran darah. Tapi aku masih bisa mengenalinya dan matanya… Mata yang sama persis dengan kakak. “Kak Roland?” gumamku.
Tapi kakak sudah pergi meninggalkanku dan mulai melawan musuh tanpa gentar. Ternyata kakakku selama ini adalah seorang pemimpin. Aku bangga menjadi adiknya. Aku pun mulai berlari menyusul dia, tapi tidak jauh dari tempatku ada seekor harimau yang besar sedang menuju ke arah kakak. Aku harus mendahului harimau itu. Aku harus menyelamatkan kakak. “Kakak!” teriakku. Tapi kakak tidak menoleh, kakak tetapi sibuk melawan musuhnya.
Tanpa pikir panjang aku langsung menyerang harimau itu. Harimau itu tertusuk pedangku. Tapi lukanya hanya kecil. Harimau itu mengamuk dan menerjang ke arahku. Aku acungkan pedangku, ternyata pedangku patah. Aku menatap harimau itu dengan ngeri. Bagaimana aku bisa mengalahkannya? Tidak ada waktu untuk berpikir, yang terpenting aku harus lari. Aku berusaha bangkit tetapi harimau itu menahanku dengan kedua kakinya. Kakinya yang lain maju ke arahku dan mencakarku. Satu cakaran. Dua. Tiga. Empat. Satu lagi cakaran mengenai mukaku dan yang lainnya di bagian dadaku.
“Arghh!!” aku meraba bagian dadaku. Darah. Kini aku penuh darah.
Ku coba untuk mendorong harimau itu tapi aku tidak kuat. Harimau itu terlalu besar. Aku akan mati. Mati sebelum berbicara dengan kakak. Pengorbananku akan sia-sia. Tanpa berpikir panjang aku berteriak, “Roland! Roland Wiseman! Aku adikmu!” Aku tidak bisa melihat reaksi kakak. Bahkan untuk menoleh pun aku tak sanggup. Terpikir olehku, kenapa harimau ini tidak langsung memangsaku saja?
“Aulyn? Apakah itu kau?” kata-kata itu yang membangunkan kesadaranku.
Roland berlari ke arahku. Sebelum dia sempat menebas hewan yang di depanku, leherku sudah dicabik olehnya. Aku sungguh tidak sanggup lagi.
“Aulyn! Bertahanlah! Bagaimana kau bisa berada di sini?”
“A-akhir-nya aku bisa bertemu denganmu. Aku merindukanmu..” Kataku dengan terbata-bata. Aku bisa melihat dia mulai menangis. Dia tidak berkata apa-apa. Hanya menatapku dengan mata yang sangat indah. Mata yang sangat aku sukai.
Aku menarik napas untuk yang terakhir kali, mengumpulkan tenaga untuk berbicara sekali lagi.
“Aku mencintaimu–” lalu aku menutup mata.
Aku bisa mendengar isakan tangis kakak dan sebuah bisikan. Bisikan kata-kata yang membuat aku bisa mati dengan tenang.

chio 7 juta dolar

Aku dikejar oleh seorang yang tidak aku kenal. Dia seorang pria bertubuh besar dengan penutup wajah dan membawa sebilah pisau besar. Dia mengejarku hingga ke tengah hutan yang berada di belakang rumahku.
“BERHENTI SEKARANG JUGA, Noah!” teriak si pria gila itu.
Aku terus berlari sekencang cheetah. Mungkin tidak terlalu kencang, mengingat aku seorang per*kok. Aku tidak tahu sebab orang gila ini mengejarku. Dia bahkan tahu namaku. Tapi aku tidak terlalu memikirkan alasan orang gila itu menangkapku. Yang jelas, aku terus berlari menjauh dari dia.
“Noah, berhenti! Saya tidak akan menyakitimu! Saya lelah mengejar kamu!” raung si orang gila itu. Kedengarannya dia kelelahan. Dasar orang tua!
“aku tidak akan berhenti sampai kamu memberiku alasan kenapa kamu ingin menangkap saya!” aku meraung di balik sebuah pohon besar.
“Tunjukkan dirimu, akan saya beri alasan kenapa saya mengejarmu.” katanya lemah.
“Apa yang kamu inginkan dari saya?!” tanyaku panik.
“Saya ingin chip yang kamu sembunyikan sejak sebulan yang lalu!” katanya.
Sial! Dia tahu aku menyembunyikan chip yang berisi data lengkap pengiriman nark*ba ke Malaysia dan jumlah uang jutaan dolar. Aku menemukan chip ini di rumah seorang bandar nark*ba paling terkenal di Asia Tenggara, Shahrul Azam. Dia orang Singapura.
“Saya tidak memilikinya, dasar kep*rat! Kamu salah orang!” kataku berbohong.
“Saya tahu kamu bohong. Cepat berikan chip itu, dan kamu tidak akan saya bunuh.” katanya.
“Saya tidak berbohong. Kalau pun saya berbohong, saya akan kembali berlari menjauh dan memberikan chip itu kepada polisi.” kataku menantang.
“Baiklah anak muda! Jika kamu ingin mati, tunjukkan dirimu! Saya tidak hanya membawa pisau. Saya membawa pistol juga, dan pelurunya akan bersarang di jantungmu!” katanya menggertak.
Aku mulai panik. Jika aku lari, aku akan ditembak. Jika aku menampakkan diri, chip itu tidak akan sampai ke tangan polisi. Tapi, aku berada di hutan, dan dia kelelahan. Tembakannya pasti payah. Aku memilih lari sekencang-kencangnya. “Hey! Jangan kabur, anak si*lan!” raung si orang gila itu sambil menodongkan pistolnya ke arahku dari kejauhan. Dia benar. Dia membawa pistol. Aku pun berlari zigzag, sambil bersembunyi di setiap pohon yang aku temui.
DORR!!!
Suara tembakan membahana di hutan. Tembakannya meleset jauh. Dia mengarahkan tembakannya ke arah pohon yang berjarak lima meter dari tempatku bersembunyi. Aku pun melanjutkan pelarianku.
DORR!!!
Suara tembakan yang lain, namun kali ini hampir mengenai pelipis kiriku. Aku masih hidup.
“Bisakah kamu menembak dengan benar, psikopat?!” kataku mengejek.
“Berhenti sebelum pelurunya mengenai kepala besarmu, Noah!” raung si orang gila.
“saya tahu nama kamu sekarang!” raungku sambil berlari, “namamu adalah kep*rat! Benarkah itu?!”
“itu namamu yang akan tertulis di batu nisanmu!” raungnya terpancing ejekanku.
“hey kep*rat! Kenapa kamu jadi loyo?!” kataku terus mengejek.
“kamu yang mulai kelelahan, dasar napas tembakau!” raungnya marah.
“napasku memang napas tembakau, tapi pikiranku bukan pikiran pil ek*tasi!” raungku balik mengejek.
“kemarikan chipnya, Noah!” raungnya dengan penuh kemarahan. Aku tidak menjawab.
Napasku terasa habis terus-terusan berlari dan bersembunyi menghindari tembakan orang gila itu. Ujung hutan hanya beberapa puluh meter lagi. Jalan raya sebentar lagi terlihat. Aku terus berlari tanpa berhenti. Orang gila itu sepertinya menjauh. Dia kelelahan mungkin. Di ujung hutan, terdapat sebuah pondok yang dimiliki oleh Pak Soleh. Dia mungkin bisa membantuku untuk meminjamkan pick up-nya, agar aku sampai di kantor polisi dengan cepat. Setengah jam aku berlari, akhirnya aku sampai di pondok Pak Soleh. Aku menggedor pintu pondoknya dengan keras.
“Assalamu’alaikum! Pak Soleh!” kataku dengan agak keras.
“Walaikumsalam.” sahut Pak Soleh, lalu membuka pintu, “Noah, ada apa? Kamu terlihat kelelahan.”
“Pak, boleh saya meminjam pick up Bapak? Ini darurat.” pintaku.
“Darurat apa, Nak? Ada apa ini?” tanya Pak Soleh keheranan.
“Saya dikejar oleh orang suruhan Shahrul. Bapak tahu kan siapa Shahrul? Bandar nark*ba.” terangku ringkas.
“Shahrul? Bagaimana kamu bisa berurusan dengan tukang madat itu, Noah?” tanya Pak Soleh khawatir.
“Saya menemukan bukti. Sebuah chip tentang daftar pengiriman nark*ba dan jumlah uang yang sangat banyak.” kataku.
“Baiklah, Nak. Saya cari kuncinya dulu.” kata Pak Soleh, dan langsung masuk ke dalam mencari kunci.
Dua menit kemudian, Pak Soleh kembali membawa kunci mobil pick up.
“Ini, nak. Mobilnya ada di samping pondok. Mungkin tadi kamu melihatnya. Hati-hati, Nak. Allah akan melindungimu.” kata Pak Soleh.
“Terima kasih, Pak!” kataku.
“Sama-sama. Ayo cepat, sebelum orang itu mengejarmu ke sini!” kata Pak Soleh.
“Baik, Pak. Assalamualaikum.” kataku sambil bersalaman dengan Pak Soleh.
“Walaikumsalam. Hati-hati, Noah!” kata Pak Soleh.
Aku langsung menuju mobil pick up hitam, yang terparkir di sisi pondok Pak Soleh. Dengan tergesa-gesa, aku menstarter mobilnya. Dari kejauhan, aku melihat pantulan dari orang itu dari kaca spion. Dia masih menenteng pistolnya. Mobilnya menyala, dan tanpa berlama-lama, aku langsung melaju dan memacu mobil dengan cepat.
DORR! DORR!
Rentetan tembakan hampir mengenai mobil ini. Orang itu tidak akan bisa merusak mobil Pak Soleh. Sepertinya aku aman. Dia menjauh. Aku pun memacu mobil Pak Soleh dengan sangat cepat. Di tengah perjalanan, aku menelepon Ayahku. Ayahku seorang polisi. Dia bertugas di Polsek Cipacing, daerah tempat aku tinggal.
“Assalamualaikum, Yah!” kataku ketika saluran telepon tersambung.
“Walaikumsalam, Noah. Ada apa? Kamu terdengar panik.” kata Ayahku.
“Ayah, aku lagi pegang chipnya Shahrul. Dia bersembunyi di Cipacing, seperti dugaanku. Aku butuh pengawalan.” terangku, “Bisakah Ayah melacak keberadaanku, agar bisa memberi pengawalan? Aku khawatir orang suruhan Shahrul mengejarku.”
“Kamu menemukan chipnya?” kata Ayahku terkejut, “Baiklah, Nak, anak buah Ayah akan melacak keberadaan kamu lewat nomor ponselmu. Ayah akan minta bantuan dari Polda untuk pantauan udara. Kamu baik-baik aja kan?”
“Ya, aku baik, Ayah. Cepat bawa polisi untuk mengawalku. Jarak menuju Polsek agak jauh. Aku meminjam pick up Pak Soleh.” kataku.
“Ide bagus, Nak! Ayah akan usahakan secepatnya.” kata Ayah, “Asep, kamu sudah merekam percakapan ini? Bagus. Noah, Ayah menyadap percakapan kita. Kami tahu keberadaan kamu. Polisi akan datang mengawalmu dua puluh menit lagi!”
“Baik, Ayah. Makasih. Aku tutup teleponnya.” kataku, lalu aku memutus sambungan teleponnya.
Aku memacu mobil dengan sangat cepat, agar cepat sampai. Jarak menuju Polsek agak jauh. Sekitar lima belas kilometer. Aku khawatir, orang gila itu membawa kendaraan dan menambah orang lagi untuk mengejarku. Sambil memacu mobil, aku mencari senapan di sekelilingku.
Pak Soleh adalah seorang pemburu burung, jadi mungkin saja ada senapan di dalam mobilnya. Beruntung, aku menemukannya di belakang kursi di sebelahku. Ada pelurunya juga di sana. Aku aman jika orang gila itu tiba-tiba muncul. Lima menit kemudian, kekhawatiranku menjadi kenyataan. Orang gila itu mengejarku dengan sepeda motor. Dia membawa temannya dua orang. Masing-masing mengendarai sepeda motor dan membawa pistol.
“Menepi sekarang juga!” raung si orang gila dari sisi kanan mobil sambil mengetuk kaca pintu mobil dengan pistol.
Aku memacu mobil dengan sangat cepat, tapi mereka lebih cepat, bahkan ada yang mendahuluiku. Orang itu menghalangi jalanku. Aku pun menyiapkan senapanku. Peluru sudah terisi. Aku membuka kaca pintu mobil, mengarahkan senapan ke sepeda motor yang menghalangi jalanku.
DORR!
Suara tembakannya sangat keras. Aku mengenai ban belakangnya hingga pecah. Dia tersungkur ke sisi jalan. Beruntung tidak aku lindas. Tapi orang gila yang sedari tadi mengejarku berada di sisi kiri mobil.
DORR!
Dia menembakkan kaca mobil hingga pecah. Beruntung, aku menunduk di saat yang tepat.
“Meleset lagi, kep*rat! Lihat caraku menembak! Temanmu tersungkur. Kau ingin mencobanya?” raungku mengejek.
“coba saja, anak muda!” dia balik meraung.
Aku membidik senapanku ke arah orang gila itu. DORR! Aku hanya mengenai kaca spionnya. Hampir mengenai tangannya yang sedang memegang pistol.
“Hanya kaca spion, anak muda! Bahkan tidak melukai saya!” dia mengejek.
DORR!
Suara tembakan keras itu mengenai tangannya yang sedang memegang pistol. Tembakanku kali ini tepat sasaran. Tidak sia-sia Ayahku dan Pak Soleh mengajariku menembak.
“AARRGGHH!!!” raung si orang gila kesakitan.
“Oh maaf, apa tembakanku tepat sasaran? Rasakan itu, Kep*rat!” ejekku.
Suara sirine terdengar dari belakang mobil. Akhirnya mereka datang. Aku selamat. Tapi, orang gila itu tampaknya tidak mau menyerah. Temannya kabur menuju hutan. Hanya aku dan Kep*rat itu sekarang. Aku harus menahannya sampai ke Polsek. Hanya beberapa kilometer lagi aku tiba di Polsek.
“Kau takut, Kep*rat? Teman-temanku akan datang mengawalku dan menangkapmu!” kataku.
“Tidak jika aku membunuhmu lebih dulu!” katanya dengan penuh amarah.
Aku menabrakkan mobil Pak Soleh ke sisi motor orang gila itu. Lagi-lagi tak disangka. Mobil polisi yang akan mengawalku ditabrak oleh sebuah mobil SUV hitam. Itu Shahrul. Dia mendekat menuju mobil yang aku kendarai.
“Hentikan mobilnya sekarang atau kamu akan mati!” raung Shahrul. Aku terus memacu mobil Pak Soleh hingga batas kecepatan yang bisa dicapai mobil ini. Tiga kilometer menuju Polsek, aku dihimpit oleh sepeda motor si Keparat itu dan SUV Shahrul. Suara helikopter terdengar di atas mobil. Aku kembali selamat.
“Harap pengendara sepeda motor trail berwarna hijau putih dan mobil SUV berwarna hitam untuk menepi dan menjauhi pick up hitam itu!” perintah seorang polisi dari helikopter dengan pengeras suara.
DORR!
Tembakan berasal dari mobil Shahrul. Tembakannya mengenai helikopter. Beruntung tidak mengenai mesin, helikopter pun terbang agak menjauh, namun aku sudah hampir tiba di Polsek. Blokade jalan pun dilakukan di dekat Polsek. Mereka memberiku jalan, namun tidak memberi jalan kepada Shahrul dan tangan kanannya. Aku masuk ke area Kantor Polsek dan memakirkan pick up Pak Soleh tepat di depan pintu masuk kantor. Aku langsung berlari menuju ruangan Ayahku, tanpa mempedulikan bagian pelayanan.
“Ayah! Chipnya aman. Ada padaku!” kataku setengah berteriak.
“Noah! Kamu baik-baik aja?!” tanya Ayahku cemas.
“Nggak terlalu baik. Beberapa kali aku hampir tertembak. Satu mobil polisi mengalami kecelakaan, karena ditabrak SUV Shahrul.” kataku tersengal.
“Yang penting, Nak, kamu selamat.” kata Ayahku lega, “Di mana chipnya, Noah?”
“Ini, Yah.” kataku setelah merogoh saku untuk mengambil chip dan menyerahkannya kepada Ayahku.
“Bagaimana kamu menemukan chip ini?” tanya Ayahku.
“Aku menemukannya,” kataku memulai, “Di sebuah rumah persembunyian Shahrul. Rumah kosong dekat kebun singkong Pak Deri, yang di belakang rumah kita. Aku menemukannya kemarin malam. Aku sudah curiga selama tiga hari belakangan ini dengan kegiatan yang ada di rumah kosong itu. Aku melihat sekilas wajah Shahrul. Awalnya aku tidak mengenalinya, sampai Ayah membawa sebuah poster DPO ke rumah.”
“Foto Shahrul. Jadi aku menyimpulkan bahwa orang itu adalah Shahrul. Jadi, kemarin malam, tanpa sepengetahuan Ayah, aku menyelinap ke rumah persembunyian Shahrul. Aku menemukan sebuah chip yang ada di sebuah laptop. Jadi aku melihat isi chip itu sebentar. Isinya daftar pengiriman nark*ba dan jumlah uang hasil penjualan nark*ba sebesar tujuh juta dolar amerika serikat.”
“Setelah aku melihat isi chip itu, aku mengambilnya. Itulah sebabnya semalam aku tidak pulang ke rumah. Aku bersembunyi di sebuah saung di tepi sawah. Setelah itu, aku lari menuju hutan dan menuju pondok Pak Soleh untuk meminjam mobil beliau. Aku berniat melaporkannya langsung ke atasan Ayah. Tapi tangan kanan Shahrul mengetahui aku mengambil chipnya dan mengejarku sampai sini. Jadi begitulah keteranganku, Ayah. Ayah sudah mencatatnya?”
“Ayah sudah mencatatnya, nak. Kamu memang anak Ayah yang sangat berani, Noah.” kata Ayah bangga, “Asep, tolong ambilkan minum untuk Noah. Deni, bawa tersangka ke ruangan saya!”
Aku pun duduk lemas di sebuah sofa di sebuah ruangan saksi. Aku benar-benar lelah. Awalnya aku berniat menyaksikan keterangan dari Shahrul dan tangan kanannya, tapi aku super lelah, jadi aku hanya duduk dan minum segelas air putih yang diberikan Pak Asep tadi. Lumayan untuk menyegarkanku.
Semoga saja, Shahrul dan tangan kanannya dihukum mati atas kejahatannya yang tidak bisa dimaafkan, karena telah merusak generasi muda bangsa ini dengan nark*ba yang dijualnya. Dan semoga saja, Indonesia bebas dari nark*ba. Aku akan memberantas peredaran nark*ba di negeri ini, meskipun aku bukan anggota BNN ataupun perwira polisi. Aku tidak peduli. Aku punya sertifikat untuk menggunakan senjata api, jadi aku akan terlindung dari hal-hal yang membahayakan seperti tadi. Ya, mungkin saja aku akan masuk menjadi anggota BNN, karena aku memang bertekad untuk memberantas para pengedar nark*ba yang ada di negara ini.

terima kasih sahabatku

Punya teman adalah hal yang biasa, tapi menjadikannya seorang sahabat itu luar biasa. Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi. Dialah ladang hati, yang ditaburi dengan kasih dan dituai dengan penuh rasa terima kasih, karena sahabat adalah naungan dan pendianganmu. Namun sahabat bukan sekedar sahabat, kita senantiasa mencarinya untuk bersama menghidupkan sang waktu, bukan mencarinya untuk sekedar bersama dalam membunuh waktu. Dialah sahabat yang mengisi kekurangan kita, bukan mengisi kekosonganmu dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa riang dan kegembiraan.
Dialah sang sahabat yang pernah aku temui, yang setia dari dulu hingga sekarang aku telah menginjak bangku SMA. Senang rasanya punya sahabat yang punya segudang ilmu sepertinya. Namun, aku hanya bisa bertemu dengan sang sahabat ketika di sekolah saja, kami tidak pernah sekali pun melakukan komunikasi saat di rumah, tapi itu semua tak membuat persahabatan kami menjadi renggang.
“Aku ingin sekali melihat indahnya negeri Nagasaki, Jepang.” gerutuku pada sahabat.
“Kamu mau ke Jepang?” tanya sang sahabat.
“Aku mau sekaliii.. Aku ingin pergi bersamamu.” jawabku.
“Jangankan Jepang, aku akan membawamu keliling dunia.” Jawab sang sahabat.
Itulah kata sang sahabat padaku di suatu siang saat aku sedang bersama sang sahabat.
Malam semakin larut, seisi rumahku sudah sedari tadi tertidur pulas, namun aku tak kunjung merasakan beratnya menahan kantuk ku raih buku yang tadi siang dipinjamkan sahabatku. “Pesona Bawah Laut NTT.” Sang sahabat banyak meminjamkan bukunya untukku tentang keberagaman Indonesia. Dan kini sang sahabat kembali meminjamkan buku tentang pulau Raja Komodo.
Ku buka buku itu lembar demi lembar, ku cermati gambar demi gambar, ku baca dengan tenang dan perlahan setiap katanya hingga aku merasa seakan benar-benar berada di sana. Namun tiba-tiba, ding, dung, ding, dung suara itu membuatku kaget dan sontak terbangun. Alarm si biang keroknya. Namun, aku kaget bukan kepalang saat ku lihat jam telah menunjukkan pukul 7 pagi. Ternyata semalam aku ketiduran saat membaca buku dari sahabatku. Aku bergegas mandi dan segera berangkat ke sekolah.
Sialnya aku hari ini. Sudah bangunnya kesiangan, telat masuk kelas, dihukum guru mapel lagi. Aduh lengkap sudah penderitaanku hari ini, selengkap menu makan siangku nanti. Tapi, itulah balasan dari ketidakdisiplinanku. Sebenarnya sang sahabat sudah sering kali mengingatkanku agar selalu disiplin dalam hal apa pun. Tapi inilah aku, aku tak bisa menjadi orang lain seperti sang sahabat, dan orang lain belum tentu bisa menjadi sepertiku termasuk sang sahabat.
Dreng, drung, drung bel tanda istirahat pertama berbunyi. Seluruh siswa di dalam kelas berhamburan ke luar semacam itik kelaparan yang dibuangkan makan oleh tuannya. Namun, ku lihat sang sahabat tak berkutik apalagi bergerak. Aku pun menghampirinya bermaksud mengembalikkan buku yang sempat ku pinjam darinya kemarin. Tampaknya sang sahabat terlihat begitu bahagia. Asisten sang sahabat kemudian menegurku.
“Sang sahabat lagi bahagia.” kata asisten.
“Apa gerangan engkau berkata seperti itu?” tanyaku.
“Tahukah engkau, sang sahabat telah berhasil membawamu keliling Indonesia, tidakkah kamu menyadari?” kata asisten.
“Maksudnya apa?” tanyaku balik pada asisten.
“Kamu telah banyak membaca buku sang sahabat, buku yang kemarin kamu pinjam adalah buku terakhir tentang keberagaman Indonesia.” kata asisten.
“Jadi?” tanyaku.
“Jadi, sekarang kamu sudah tahu banyak tentang Indonesia, bahkan sampai ke pelosok-pelosoknya, itu berarti secara tidak langsung kamu telah berkeliling Indonesia.” jelas asisten.
“Benarkah? Aku tak pernah menyadarinya, tapi aku sangatlah bahagia. Dan…” aku mengakhiri perkataanku.
“Dan apa?” Tanya asisten.
“Sang sahabat pernah bilang, kalau ia akan membawaku untuk melihat Jepang, aku ingin sekali ke sana.” kataku dengan nada sedih.
“Belajarlah dahulu. Suatu saat nanti impianmu pasti terwujud, yakinlah!!!” Begitulah asisten meyakinkanku kalau aku pasti bisa melihat indahnya kota Jepang.
Aku kembali ke kelas dengan membawa sebuah buku baru yang kembali ku pinjam dari sang sahabat. Aku akan belajar seperti kata asisten agar secepatnya aku bisa melihat indahnya kota Jepang. Sepulang sekolah aku menyempatkan diri menemui sang sahabat walau hanya di ambang pintu, karena itulah waktu terakhir aku melihat sang sahabat sepulang sekolah, esok aku kembali menemuinya.
“Aneka Makanan Lembut.” itulah buku dari sang sahabat, cocok untukku yang sedang lapar. Ku pratekkan cara membuat kue lembut sesuai petunjuk dari buku. Hasilnya memang tak sama tapi enaknya melebihi dari gambar yang ada. Akhirnya satu resep pun berhasil, akan ku ceritakan hal ini pada sang sahabat, aku yakin sang sahabat pasti sangat bahagia.
Fajar kembali menemuiku dengan gairah segar kehidupan, ku mulai kembali aktivitas hari ini. Sebuah kendaraan beroda empat tapi bukan mobil avanza, Ayla, Honda Jazz apalagi mobil Lamborgini, tapi hanyalah sebuah bendi sederhana yang selalu mengantarku setiap kali ke sekolah dan menjemputku di saat pulang. Sesampainya di kelas, ternyata kelas sangat ramai, semuanya asyik bercerita entah ada apa lagi ini. Aku segera menghampiri salah seorang temanku yang terlihat sangat semangat bercerita. Yusi namanya.
“Ada apa, kok pagi-pagi ramai begini?” tanyaku.
“Ini ada info terbaru, pekan depan kita akan ujian massal.” Jawab Yusi.
“Oh. Kirain ada apa..” Kataku sambil duduk di kursiku.
“Ini saatnya ku buktikan pada sang sahabat.” gumamku dalam hati.
“Hey kok ngelamun ada apa?” kata Yusi.
“Eh nggak apa-apa kok, aku ke luar dulu yah, daaahh.” jawabku sambil berlari melambaikan tangan.
Aku berlari sekencang-kencangnya, untuk menemui sang sahabat. Setibanya di kelas sang sahabat, asisten segera menyapaku, di tengah-tengah aku berusaha mengumpulkan kembali napasku.
“Ada apa kamu ke sini? Kamu terlihat sangat bahagia.” kata Asisten.
Orang ngos-ngosan malah dikiranya bahagia. Dengan polosnya aku berkata.
“A..aa..kuu me..maangg lagii.. baa..haagiaa.” kataku sambil terbata-bata karena masih ngos-ngosan.
“Duduk sini! Biar aku ambilkan minum dulu.” kata asisten.
“Nggak usah. Aku ke sini cuma mau kasih tahu kalau pekan depan itu akan diadakan ujian massal. Apakah sang sahabat sudah tahu?” kataku dengan serius.
“Sang sahabat sudah tahu, makanya sang sahabat menyuruhku untuk menemuimu, tapi kamu malah datang sendiri.” kata asisten sambil tersenyum.
“Haa? tumben sang sahabat menyuruhmu menemuiku, ada apa memang?” tanyaku dengan nada sinis.
“Sang sahabat berpesan, kalau kamu harus belajar dengan baik, buktikan kalau kamu bisa!!! Jangan buat sang sahabat kecewa padamu, sang sahabat telah banyak meluangkan waktunya untukmu. Ingat pula, mintalah doa restu pada kedua orangtuamu, apalagi kepada Ibumu jangan buat orangtuamu ikut kecewa, berusahalah sebaik mungkin, dan berdoa kepada Tuhan. Yakinlah bahwa ketika kita sudah berusaha, pastilah Tuhan akan menunjukkan jalan, asalkan kejujuran kau junjung tinggi. Ingatlah perjuangan orangtuamu dalam menyekolahkanmu, tidakkah engkau merasa bersalah, ketika engkau gagal?” jelas asisten.
Dan tanpa ku sadari air mataku jatuh berlinang membasahi pipiku. Nasihat tadi bagaikan petir yang seketika menyambarku. Tubuhku terasa kaku, tak bisa digerakkan sedikit pun, seakan diriku mati seketika, namun asisten kembali lanjut bercerita.
“Oh ya kamu jangan sesekali mencoba untuk berbuat curang, ketahuilah kecurangan akan membuatmu menemui jurang kehancuran. Camkan baik-baik.” Kata asisten.
“Sampaikan ucapan terima kasihku pada sang sahabat, yang telah membangkitkan semangatku. Aku berjanji tidak akan membuat orangtua dan sahabatku kecewa padaku, karena itu sama saja aku membunuh diriku sendiri.” jawabku sambil menangis.
“Baguslah kalau kamu berpikir seperti itu. Dan ada satu lagi?” lanjut asisten.
“Apa lagi?” jawabku keheranan.
“Hapuslah air matamu itu, janganlah terlihat lemah di depan teman-temanmu.” Kata asisten. Aku hanya tersenyum menanggapinya dan berlari menjauh dari asisten sang sahabat.
Tak terasa waktu untuk ujian massal tiba. Waktu seakan dipercepat seratus persen dari sebelumnya, seandainya aku mampu mengulang waktu yang berlalu, mungkin tak akan terjadi yang namanya ujian massal. Namun, apa daya aku hanyalah manusia biasa yang digeluti seribu satu macam kekurangan.
“Jangan menyerah sahabatku kamu pasti bisa!!! Hadapi semua yang ada di depan dengan penuh rasa percaya diri. Ingatlah kedua orangtuamu, ingatlah mereka, demi mereka kamu harus bisa, jangan buat mereka kecewa, karena sepenuhnya harapan orangtuamu ada pada dirimu.” Kata-kata dalam mimpi itu membangunku dalam tidur lelapku. Meski mata ini masih terasa sangat berat untuk terbuka, namun ku paksakan mata ini untuk terbuka selebar dunia, berharap asa akan datang.
Dengan langkah penuh semangat aku berangkat ke sekolah menjalani ujian massal. Bermodal tekad yang kuat aku yakin kalau aku pasti bisa! Ketika si polos sang lembar jawaban dibagikan, jantungku berdetak kencang, apalagi saat si monster soal dibagikan aku terasa mati dihantam badai pasir, pikiranku jadi kacau namun aku berusaha menenangkan diri sebelum menjawab soal dan berdoa kepada sang Maha Pemberi Kemudahan.
Berhubung ujian hari ini adalah matematika, maka aku harus berpusing-pusing tujuh keliling, delapan tanjakan, sembilan belokan untuk mengeluarkan rumus-rumus jitu penakluk sang monster, dan berkat rumus-rumus itu akhirnya aku bisa menyelesaikan soal ujian hari ini. Setelah ujian seisi ruangan kosong, hanya ada aku seorang diri dan tak lama asisten datang menghampiriku.
“Gimana ujian matematikanya?” tanya asisten.
“Yah begitu.” jawabku dengan muka datar.
“Begitu bagaimana? Certain dong!!!” bujuk asisten.
“Maaf ya, jika kamu datang atas perintah sang sahabat, aku mohon beri tahu kepadanya kalau aku tak akan bercerita sebelum semuanya selesai.” Jawabku.
“Baiklah kalau itu maumu. Tapi, sang sahabat ingin mendengar berita bahagia darimu, ketika berita bahagia itu tiba, sang sahabat akan memberi hadiah.” Kata asisten menjelaskan.
“Benarkah apa yang kamu katakan barusan?” tanyaku dengan nada tergesa.
“Yah. Makanya belajarlah dengan baik. Sampai jumpa.” kata asisten sambil pergi meninggalkanku. Aku janji akan berusaha dengan baik agar bisa membuat orangtua dan sahabatku bahagia.
Hampir seminggu tidak bertemu sang sahabat, aku sangat rindu padanya, rindu dengan segala hal yang ada pada dirinya, aku sudah tidak sabar untuk menemuinya sehabis ujian terakhir hari ini. Ujian terakhir hari ini adalah ekonomi, pelajaran kesukaanku aku berharap bisa menjawab soalnya dengan baik. Dreng, drung, drung bel tanda ujian berakhir pun berbunyi. Aku segera mengumpulkan soal dan lembar jawabanku. Aku yang tadinya berencana menemui sang sahabat, tidak jadi karena suatu hal yang sangat mendesak untukku cepat pulang ke rumah.
Seminggu kemudian hasil ujiannya telah ke luar dan dipajang dengan lebarnya pada papan pengumuman. Ku lihat dan ku cermati baik-baik satu persatu nama dan akhirnya terlihat sebuah nama yang terpampang jelas berketerangan merah. Aku sangat kaget melihat hal itu aku tak menyangka akan seperti ini hasilnya. Aku gagal, aku gagal memenuhi janji pada orangtua dan sahabatku.
Bagaimana jika mereka tahu, aku tidak bisa membayangkan betapa marah dan kecewanya mereka terhadapku. Aku jatuh tersungkur di hadapan papan pengumuman itu, aku tak malu dilihat banyak orang, karena aku lebih malu kalau semua ini diketahui oleh sang sahabat. Aku menangis sekeras-kerasnya, air mataku tak dapat lagi ku bendung. Terlihat ada seseorang yang mengulurkan tangannya untukku.
“Bangunlah, jangan seperti ini.” kata orang itu. Aku segera bangkit dan ternyata itu adalah asisten.
“Asisten, kaukah itu?” tanyaku dengan masih berlinang air mata.
“Ya, sang sahabat ingin bertemu denganmu sekarang juga.” kata asisten.
“Tidak!!! Aku tidak mau bertemu sang sahabat. Sang sahabat pasti akan marah padaku.” Jawabku sambil menangis sejadi-jadinya.
“Pergilah saja dulu.” kata asisten. Tanpa sepatah kata yang ke luar dari mulutku, aku menuruti kata asisten. Setibanya di sana sang sahabat menghampiriku di depan pintu.
“Maafkan aku, aku belum bisa menepati janjiku, aku gagal dalam ujian kali ini.” ucapku sambil berlutut di depan sang sahabat. Tapi, sang sahabat tak juga bereaksi.
“Aku mohon maafkan aku.” ucapku lagi.
“Sang sahabat masih kecewa padamu, kau ke manakan semua ilmu yang sang sahabat beri selama ini?” tanya asisten.
“Maafkan aku, aku belum bisa membuat sang sahabat bahagia, aku mohon maafkan aku.” pintaku berulang kali pada sang sahabat. Tapi sang sahabat malah menangis.
“Asisten aku mohon! Berilah penjelasan pada sang sahabat, tolong maafkan aku.” ucapku lagi.
“Sang sahabat pasti akan memaafkanmu ketika suatu saat nanti engkau bangkit dari keterpurukanmu ini.” kata asisten.
“Jadi, bagaimana dengan hadiah yang ia janjikan padaku?” tanyaku.
“Mungkin sang sahabat belum bisa menepatinya.” jawab asisten.
“Jadi, kapan sang sahabat akan membawaku ke Jepang?” tanyaku.
“Suatu saat nanti bila engkau berhasil, dengan sendirinya kamu akan ke sana, tapi ingat jangan lupakan sahabatmu di sini.” jawab asisten.
“Tapi, aku ingin pergi bersamanya, bersamanya aku akan melihat Jepang.” ucapku setengah menangis.
“Dengan kamu ke sana, maka sang sahabat juga akan tetap ke sana mengikutimu, lewat kamulah sang sahabat pergi.” Jawab asisten.
“Belajarlah dengan baik, dengan ilmumu kamu akan melihat indahnya kota Jepang, lakukanlah!!! Demi kedua orangtua dan sahabatmu.” ucapnya lagi.
“Tapi, aku tidak bisa melakukan semua ini sendirian.” keluhku pada asisten.
“Kalau kamu mau dimaafkan, lakukanlah! Demi orangtua dan sahabatmu.” ucap asisten.
Tapi, aku masih tidak percaya kalau aku akan bisa menjalaninya tanpa bantuan sang sahabat. Berhari-hari aku berada dalam keterpurukan karena kegagalan yang aku alami. Aku sangat kecewa, aku tak pernah menyangka akan seperti ini jadinya padahal aku telah berusaha sekuat tenaga. “Ah, Tuhan memang tidak adil padaku, kenapa aku dibuat gagal seperti ini.” Hati ini menjadi gelisah, galau, dan gundah. Namun, aku heran pada kedua orangtuaku mengapa mereka malah menyemangatiku bukannya marah padaku. Ibu bapak tak henti-hentinya memberiku semangat, hingga aku benar-benar mampu berpijak kembali.
Sekolah kembali dimulai, hari itu sang sahabat tak datang ke sekolah. Aku mengerti akan hal itu pasti sang sahabat masih kecewa padaku. Tapi, kenapa dia tak bisa menghilangkan rasa kekecewaannya itu? Apakah menghilangkan kekecewaan itu susah? Dan apakah memaafkan seseorang itu juga susah? Seribu satu macam pertanyaan ada dalam benakku hanya waktulah yang dapat menjawab semuanya.
“SMA Tunas Bangsa, SMA terbaik seprovinsi Sulselbar. Agar mempersiapkan diri karena akan diadakan seleksi pemilihan siswa terbaik dan yang terpilih akan berangkat untuk pelaksanaan pertukaran pelajar ke Jepang.” Begitulah berita harian utama Koran Sindo. Aku yang membaca berita itu kaget namun sedikit bahagia karena aku menemukan setitik cahaya untuk mewujudkan impianku selama ini. Pagi-pagi sekali aku menemui sang sahabat namun sang sahabat belum datang. Aku pun memperlihatkan berita itu pada asisten.
“Ide yang bagus! Kamu harus belajar dengan baik jangan sampai kamu gagal, kamu harus terpilih dalam seleksi ini!!” kata asisten.
“Tapi aku tak begitu yakin dengan kemampuanku. Akan ku lupakan dan ku kubur dalam-dalam mimpi itu.” jawabku.
“Jangan! Jadikanlah ini sebagai hadiah untuk sang sahabat, karena aku yakin berita ini pasti belum diketahui olehnya.” ucap asisten.
“Kenapa kau begitu yakin dengan ini semua?” tanyaku.
“Aku yakin!!! Karena kau tak bisa diragukan. Aku tahu kau pernah gagal, tapi bukan karena kita sudah gagal kita sudah tidak mau berusaha untuk berhasil. Orang hebat itu bukanlah dia yang berhasil, tapi orang hebat itu adalah dia yang pernah gagal dan bangkit lagi.” Yakin asisten.
“Cobalah, jangan ragu!” ucapnya lagi. Aku mengangguk mendengar pencerahan asisten pagi itu.
Hari demi hari aku berusaha belajar dengan baik, semua refensi pembelajaran ku pakai, tak terkecuali buku-buku sang sahabat. Hingga tibalah saat yang aku tunggu-tunggu waktu penyeleksian siswa perwakilan pertukaran pelajar. Aku berharap tesnya berjalan lancar dan membuahkan hasil yang memuaskan. Dua jam setelah tes hasil akhirnya pun diumumkan di hadapan semua calon siswa pertukaran pelajar, kepala sekolah sendiri yang akan mengumumkan hasilnya.
“Hari ini adalah hari yang sangat, dan pastinya sangat ditunggu-tunggu tak terkecuali saya sendiri. Dan langsung saja saya umumkan yang lolos seleksi tahun ini adalah selamat kepada ananda Deanda Reisya Ranaya Bakri.” dengan lantang nama itu disebutkan, aku langsung sujud syukur. Aku tak menyangka namaku disebutkan dan secara resmi akulah sebagai siswa yang diutus untuk pertukaran pelajar ke Jepang. Akhirnya mimpiku untuk melihat indahnya kota Jepang terwujud.
Semua ini berkat usahaku yang tak henti-henti dan doa kedua orangtua, dukungan sang sahabat dan asisten, serta berkat buku-buku yang aku pinjam di perpustakaan sekolah selama ini yang ku jadikan sebagai sang sahabat sejatiku. Terima kasih sahabatku engkau telah menepati janjimu padaku, kini aku berhasil melihat indahnya Jepang dan bukan hanya itu, berkat membaca buku-buku dari perpustakaan, dunia kini berada dalam genggamanku.
“Dari sekian banyak ilmu yang engkau beri kepadaku, hanya inilah balasan yang dapat aku lakukan padamu, kau akan selalu ku kenang dalam raga dan jiwa ini.” Gumamku dalam hati.
Terima kasih perpustakan sebagai sang sahabatku, engkau selalu ada dalam jiwa ini, terima kasih pula atas segenap waktumu untukku.
Cerpen Karangan: Cindyana Turut